Kamis, 08 November 2012

ILMU ITU BERADA DIDALAM DADA BUKAN DIDALAM TUMPUKAN BUKU

 Tahun  2007 saya mengunjungi pameran buku internasional di Kairo. Pameran buku ini dilaksanakan dua minggu setiap tahunnya (satu minggu terakhir bulan januari sampai satu minggu diawal februari). Setelah membayar karcis masuk 1 LE, saya memasuki salah satu percetakan besar dan mengambil sebuah buku seraya menanyakan isi buku tersebut kepada palayan. Dengan jujur ia menjawab :” saya tidak tahu”.
Pengalaman ini hampir sama dengan apa yang di alami oleh Dr. ‘Aid al-Qorny dalam kunjunjungannya kepepustakaan kongres Amerika tahun 1410 H. Pengarang buku best seller “La-Tahzan” ini menemukan buku yang luar biasa banyaknya diberbagai bidang Ilmu pengetahuan. Kemudian ia menanyakan sebuah  buku yang tidak popular kepada salah seorang karyawan perpustakaan yang kebetulan berkebangsaan Mesir. Setelah menekan tombol di Keyboard komuputer, karyawan tersebut memberitahukan dimana buku tersebut berada. Disana Dr. ‘Aid Al-Qorny menemukan ratusan ribu examplar buku, tetapi ia menemukan sebuah keanehan. Mengapa buku yang banyak tersebut belum menunjuki bangsa Amerika kepada agama Allah (Islam), dan belum menunjuki mereka kejalan yang benar.  Mungkin inilah rahasia dari firman Allah SWT yang berbunyi:
يعملون ظاهرا في الحياة الدنيا وهم عن الآخرة هم غافلون
             Jika kamu melihat seseorang yang memiliki perpustakaan dengan ratusan ribu bahkan jutaan examplar buku, tidak usah heran dan kaget sebelum mengetahui kadar keilmuan pemiliknya. Karena seseorang dikatakan berilmu bukan karena ia memiliki koleksi buku tetapi bagaimana ia membaca, memahami dan mengamalkan ilmu yang ia miliki. Karena ilmu sebenarnya bukan yang ada didalam tumpukan buku tetapi yang ada didalam dada kita. Didalam surat al-Jum’ah Allah berfirman:
Artinya:
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, Kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim”.
(QS. Al-Jum’ah ayat )
Atau seperti perkataan seorang penyair Arab:
كالعير في الصخراء يقتله الطما          والماء فوق ظهورها محمول
Laksana kafilan onta yang hampir mati kehausan
Padahal ia membawa air diatas punggungnya
Maka bagi saya seorang yang memiliki sebuah mushaf kemudian ia membaca, merenungkannya serta mengamalkannya jauh lebih bermanfaat daripada seseorang yang memiliki koleksi jutaan examplar buku tetapi tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
            Dalam perjalanan pulang kekampung halaman setelah menuntut ilmu di Thurs, Imam Ghazali beserta rombongannya dicegat oleh para perampok. Mereka merampas seluruh harta kekayaan yang dibawa rombongan termasuk milik Imam Ghazali. Kemudian Imam Ghazali mengikuti para perampot tersebut hingga sampai kemarkas mereka. Tatkala melihat imam Ghazali, salah seorang perampok berteriak:”Kembalilah! Jika tida kamu akan mati!”. Imam Ghazali menjawab:” Demi zat yang kamu harapkan keselamatan darinya, tolong kembalikanlah milikku. Itu sama sekali hanya sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu”.  Ia bertanya:” Apa isinya?”. Imam Ghazali menjawab:” Ia hanya sebuah buku, saya sengaja pergi ke Thurs untuk mendengakannya dari penulis, menulis isinya dan mengetahui ilmunya”. Perampok itu ketawa seraya berkata:” Bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa kamu mengetahui ilmunya padahal kami telah mengambil bukumu dan sekarang kamu sudat tidak memiliki ilmu lagi?”. Perampok tersebut kemudian menyuruh salah seorang temannya untuk mengembalikan buku Imam Ghazali. Imam Ghazali kemudian berkata:” Allah sengaja membimbingnya untuk mengucapkan ucapan tadi untuk menunjuki saya padanya. Setelah kembali kekampung halaman saya langsung menghafal seluruh ilmu yang saya pelajari sehingga jika senadainya saya di cegat perampok lagi maka saya tidak akan kehilangan ilmu”.
            Ini semua memberikan pelajaran kepada siapa saja yang mau berfikir bahwa ilmu tidaklah cukuk diatas tumpukan kertas,  tetapi harus dipelajari dan diamalkan sehingga bermanfaat didunia maupun di akhirat kelak. Ilmu tanpa diamalkan laksana pohon tanpa buah atau dengan bahasa Al-Qur’an laksana sekor keledai yang membawa tumpukan buku. Na’udzu billahi min Dzailk. Wallohu A’lam  

0 komentar:

Posting Komentar