Kamis, 31 Januari 2013

Pilih masa depan atau masa lalu?


‘Mantan itu, bisa diartikan dalam beberapa kata. Tapi bagiku mantan itu adalah seseorang yang dulu pernah membuatku bahagia dan menderita bersamanya, dan seseorang yang belum bisa kulupakan meski saat ini kami sudah sama-sama tak sendiri lagi.

Itu yang ada dipikiranku setiap kali aku mengingatnya, dan aku tak tau apa yang ia pikirkan setiap kali mengingatku. Apa mungkin ia masih mengingatku?’

“masih donk.....”

“Rifan!”

Rifan tiba-tiba muncul di belakangku, dan langsung duduk di kursi yang ada di hadapanku. Buru-buru kututup laptopku dan tersenyum menatap pria berlesung pipi itu.

“masih hobi nulis diary ya?” tanyanya sambil sedikit terkekeh.

“ya, itu lebih baik daripada curhat sama orang yang salah, kan?”

“You’re never change”

“No, you’ve changed everything after you said goodbye 2 years ago..”

“maaf..” Rifan menggenggam telapak tanganku, aku tersenyum. Entahlah kenapa aku tak bisa membenci pria yang jelas-jelas sudah menyampakkan aku begitu saja 2 tahun yang lalu.

“simpan aja kata-kata maafmu itu buat pacarmu. Karena dia pasti emosi kalau tau saat ini kamu ada disini bareng aku.”

“Ide bagus, Rin. Haha”

Kami tertawa, bercanda, bercerita... seperti semuanya masih seperti dulu. Sudah 2 bulan kami seperti ini, tanpa status apapun karena memang masing-masing di antara kami sudah punya kekasih. Dan bodohnya, aku menikmati semua ini.

Aku tau, aku masih sangat mencintai Rifan. Tapi, apa Rifan masih mencintaiku? Atau saat ini dia hanya memanfaatkan keadaan? Aku tak pernah berani untuk mencari jawaban dari petanyaan-pertanyaan tersebut. Aku takut jawabannya akan membuatku sakit.

Aku hanya ingin menikmati saat-saat indah ini. Saat-saat bersama Rifan, satu-satunya mantan kekasih yang belum bisa kulupakan.

***

“Kamu dari mana aja sih? SMS gak dibalas, telp gak diangkat.”

“sayang, tadi kan aku udah bilang aku ada tugas kelompok, jadi aku gak sempet perhatiin Hp.”

”aku gak percaya sama kamu. Udah hampir 2 bulan kamu sering banget seperti ini. Apa yang kamu sembunyikan?”

“Don, please ya. Kamu gak usah manas-manasin keadaan. Aku gak sembunyiin apapun!”

“aku gak percaya lagi sama kamu!”

Tuttt..

Teleponnya dimatikan. Doni, pacarku, ia sudah mulai curiga dengan perilakuku yang sering tiba-tiba menghilang tanpa kabar, itu karena aku sering mencuri waktu untuk bertemu Rifan. Tapi aku tak peduli. Meski aku menyayanginya, aku lebih memilih Rifan. Andai saja Rifan tak sedang dalam hubungan dengan gadis lain, aku rela ninggalin Doni.

“gila.”
Kataku pada cermin.

***

Hari-hari terus berlalu. Rasa sayangku pada Doni pun kian memudar ditambah dengan kehadiran Rifan kembali di hidupku.

‘Doni, maaf....

Aku tak tau kenapa aku begitu mencintai Rifan, bahkan aku bisa dengan mudahnya melupakan apa yang telah Rifan lakukan padaku 2 tahun yang lalu. Harusnya aku membenci pria itu, pria yang jelas-jelas sudah menyampakkanku begitu saja. Tapi sayangnya ketika tiba-tiba ia hadir lagi dalam hidupku, aku menyambutnya dengan senyum, tanpa beban, seolah-olah masa lalu yang menyakitkan itu tak pernah ada.

Rifan.... kapan kamu mau ninggalin pacar kamu, dan kembali sama aku?’

“jadi ini soal Rifan?!” Doni muncul di sampingku.

GUBRAAKK !!!!!!!!!!!!!!

“Doni!!!”

Dia melempar laptopku begitu saja, aku terbelalak.

“Lo gila ya?!” bentakku.

“Kalo gue gila, lo sakit!”

Aku menatap Doni yang terlihat sangat marah. Tidak, dia bukan marah, tapi terluka, airmata yang berlinang di matanya membuatku terenyah. apa yang sudah aku lakukan?

“Gue salah apa, Rin? Kalo emang lo masih cinta sama Rifan, bilang! Selesaikan hubungan kita, it’s fine! Jangan diam-diam nusuk di belakang gue....”

“Rifan itu cuma mantan, gak lebih”

“mantan yang masih lo cintai, kan? Ok. Mulai sekarang lo bebas. Lo bebas main gila sama laki-laki mana pun yang lo mau!”

Doni pergi meninggalkanku. Airmataku menetes. Perlahan aku berjalan memunguti belahan-belahan laptopku yang nyaris hancur. Orang-orang di sekitar melihatku, tak kuhiraukan. Aku berlari ke mobil dan segera menghubungi Rifan.

“halo..”

“fan, Doni udah tau semuanya...”, aku sedikit terisak.

“kok bisa?”

“dia ngeliat aku nulis diary tentang kamu...”

“ah!”

Tutttt...

"halo? fan?"

Rifan menutup telponnya. Aku kaget. Kenapa Rifan menutup teleponnya?

----to be continued----

0 komentar:

Posting Komentar