Selasa, 01 Mei 2012

AWAS!!....Berpakaian Tapi Telanjang (Akhwat Darurat)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Perhatian!! Perhatian!! Wajib di baca!! 

tulis-menulis sebenarnya bukanlah keahlian dan hobby saya. Dulu sewaktu sekolah, salah satu hal yang tidak saya sukai adalah mengarang. Jangankan menulis sehalaman, menulis satu paragraf saja bingung.
Namun karena nge-Blog harus menulis, mau tak mau saya mulai belajar. Meski awalnya bahasa tidak mengalir lancar dan perlu waktu cukup lama untuk menghasilkan satu artikel, saya nekat saja.

Bahkan sampai hari ini pun, saya masih kurang percaya diri dengan tulisan saya yang ala kadarnya. Perlu waktu cukup lama hanya untuk merampungkan satu artikel.
  Inilah postingan pertama saya.
  postingan  ini di buat dengan fenomena yang ada masa kini.
Judulnya keren tu “Berpakaian Tapi Telanjang(Akhwat Darurat)”... apanya ni yang darurat. Penasarankan?? 
yuk mari langsung ke TKP.


"Semoga judul diatas tidak melukai ukhti-ukhti semua. Terkhususnya ABG (Akhwat Baru Gede) di Kampus Hijau ku.  wiiie berpakaian tapi terlajang tu!!! Itu ungkapan spontan yang terlontar ketika melihat seorang akhwat yang setengah hati/belum sempurna cara berpakaianya dan prilakunya, terutama adalah cara berpakaianya karena itulah yang pertama terlihat. 

Yang namanya aja akhwat darurat, pakaianya pun serba darurat Rat Rat.  Jilbab kecil, gitu aja masih ditalikan kebelakang leher. Pake kaos, masih untung kalo kaosnya longgar, toh ketat banget dah. Toh mubazir kalau gak di lihat .... Pake rok?? Pikir 2x dulu ya mungkin menghambat aktifitas and gak gaul ya. Zaman gini pake Jeans donk! yang lagi trennya ni celana pensil “pas mantap” ketat. Waduh dosa ne tapi kalau gak dilihat mubazir juga nihhe Merknyapun harus yang gaul punya Levi's, Lee Coper buatan amrik atau buatannya Nyonya Irvan Gunawan. Siapa tu?? Oops aku gak tahu ya... Sendalnya pake sendal bantal yang tingginya 5 cm.
Gaul abis tu orang. 

Trend seperti sedang mewabah di kalangan akhwat, terutama yang masih ABG (akhwat Baru Gede). Gak cuma ABG, mahasiswi pun gak mau kalah gaul ama yang masih ABG. Anda bisa membuktikan kalo lewat di kampus-kampus, terutama kampus yang katanya islami..., UM.., STAIN
, IAIN, UI..  atau kalian bisa lihat fenomena di kampus hijau ku. 

Aku pernah lihat dan baca majalah yang judulnya MUSLIMAH (ketahuan nih jadi pengamat akhwat, jadi malu.., dari sampulnya saja sudah "menarik". Warnanya ngejreng khas anak muda, dan ada "cover akhwat"nya!! Gaya dan pakainya gak kalah ama cover girl, tapi aku masih "bersyukur" karena mereka masih pake jilbab. Akhwat darurat juga toh!! ^_^

Apakah kita harus bersyukur atas keadaan ini karena harus diakui pemakaian jilbab sekarang semakin banyak secara kuantitas? Atau kita larang mereka memakai jilbab karena sepertinya mereka membuat buruk persepsi umum terhadap islam? terus mengenai majalah-majalah seperti contoh tadi apa sebaiknya dibubarkan aja?Gimana meluruskan semua ini?
Tolong di bantu ya? Bim salabim jadi apa prok prok prokhhe
Muslimah seperti apa meskipun mengenakan pakaian atau bahkan berjilbab menurut Rasulullah saw dikategorikan sebagai telanjang. yak, silahkan baca selengkapnya. 
"Dua golongan di antara penghuni neraka yang belum aku lihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang-orang; perempuan yang berpakaian, tetapi telanjang yang cenderung dan mencenderungkan orang lain, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga. sesungguhnya aroma surga itu bisa tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian." (HR. Muslim)

Ibnul Jauzi yang berpendapat bahwa berpakaian tapi telanjang ada tiga makna;

Pertama, wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya.

Kedua, wanita yang membuka sebagian aurat tubuhnya.

Ketiga, wanita yang mendapatkan nikmat Allah namun tidak bersyukur kepada-Nya.

Menurut Imam An-Nawawi, berpakaian tapi telanjang mengandung beberapa arti. 
Pertama, berpakaian atau dibungkus nikmat Allah swt tetapi telanjang dari bersyukur kepada-Nya.
Kedua, terbungkus pakaian tetapi telanjang dari perbuatan baik dan perhatian terhadap akhirat serta tidak berbuat taat. 
Ketiga, mengenakan pakaian tetapi tampak sebagian auratnya; 
Keempat, berpakaian tipis yang masih memperlihatkan warna kulit dan lekuk tubuhnya.

Allah swt memberitahukan kepada kita tujuan diturunkan pakaian kepada kita adalah untuk menutup aurat. Jika berpakaian tapi jika ada sebagian aurat yang masih terbuka, lekuk tubuh jelas terlihat karena mengenakan pakaian ketat, atau anggota tubuh yang wajib ditutupi dan warna kulit nampak karena mengenakan pakaian tipis dan transparan berarti kita menyalahi aturan Allah swt dan tujuan Allah swt menurunkan pakaian, yang sama artinya kita berani menentang Allah swt.


يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاساً يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشاً وَلِبَاسُ التَّقْوَىَ ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raaf [7]:26)


Wahai saudariku! janganlah kalian mau ditipu oleh setan yang menyuruhmu untuk berpakaian tapi sesungguhnya telanjang! Jika engkau tidak mau dan tidak dapat ditipu oleh setan berarti engkau tidak menjadikan setan sebagai pemimpinmu.

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’raaf [7]:27)


Wahai saudariku, kenapa engkau berpakaian tapi telanjang? Apa niat dan tujuanmu? Apakah karena ingin tampil trendy? Apakah karena ingin memamerkan anggota tubuh dan keindahan tubuhmu? Apakah ingin merasa modern dan tidak ingin dicap kolot dan ketinggalan jaman? Apakah karena takut tidak bisa mendapatkan dunia berupa pekerjaan atau materi?


Wahai saudariku, ketika engkau mendirikan shalat menghadap Allah swt tentu engkau berpakaian lebar dan panjang. Engkau tentu tidak berani berpakaian ketat dan pendek. Engkau tentu tidak berani menampakkan sebagian atau seluruh bagian auratmu, atau menampakkan bentuk lekuk-lekuk tubuhmu. Demikian juga halnya di dalam kehidupan sehari-hari di luar (selain) shalat, tentu engkau pasti tidak berani menentang Allah dan Rasul-Nya. Engkau tahu dan paham, ajaran Islam termasuk cara berbusana tidak hanya diamalkan ketika shalat saja, tapi harus diamalkan dalam segala aktivitas kehidupan.


Wahai saudariku, jika engkau tercatat sebagai pelajar/mahasiswi Umum atau kah berciri khas kampus Islam, sebuah lembaga pendidikan atau sebagai pegawai sebuah perusahaan tentu engkau mematuhi peraturan berbusana yang ada. Engkau pasti tidak berani menentang peraturan yang ada. Demikian juga halnya sebagai Muslimah, engkau tentu bersedia mematuhi peraturan yang ditetapkan agamamu.


Jika ada pertentangan antara peraturan di mana engkau belajar atau bekerja dengan peraturan agamamu, tentu engkau lebih memilih agamamu. JIka kebijakan pemimpin di tempat belajar atau bekerjamu bertentangan dengan aturan Tuhanmu, tentu engkau lebih takut kepada Tuhanmu dan lebih memilih aturan Tuhanmu. Engkau tahu dan sadar pemimpinmu bukanlah Tuhanmu, tidak mampu menyelamatkan dirimu dari azab di dunia dan di kampung akhirat. Engkau tahu dan sadar engkau tidak ingin ikut masuk neraka jika pemimpinmu masuk neraka. Jangan sampai kelak di akhirat engkau mengatakan kepada Allah swt. perkataan sebagaimana termaktub dalam ayat berikut ini:

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

“Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Ahazab [33]:67)


Wahai saudariku, Allah swt lah yang memberimu pakaian. Maka bersyukurlah kepada-Nya. Bersyukur dengan cara mematuhi segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya termasuk dalam hal berbusana.


“Wahai hamba-Ku, kamu semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kamu minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim)


Wahai saudariku! Takutlah peringatan nabimu. Beliau saw. memperingatkan wanita-wanita berpakaian tapi telanjang tidak akan bisa mencium bau surga dari jarak jauh. Mencium baunya saja tidak, apalagi masuk ke dalamnya. Na’udzubillah min dzalik! Wallahu a’lam bishshowab.

0 komentar:

Poskan Komentar