Jumat, 02 Maret 2012

CINTA LAKI-LAKI BIASA

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Malam Ini, Aku tak Ingin Bermimpi

“Sekali ini saja, aku mohon. Setelah itu aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi!” suaranya halus, lembut, dan bernada memohon. Khas orang yang sedang butuh pertolongan.
“Mengapa harus aku? Well, kulihat banyak artis artis muda berbakat yang cocok untuk itu.”
Di ujung telepon, kudengar Danny menghela nafas.
“Tidak pernah ada yang spektakuler sepertimu. Bahkan, belum ada yang menyaingi reputasimu, prestasimu. Mereka dibesarkan karena gossip, skandal…”
“Aku sudah bertekad mengundurkan diri dari panggung hiburan. Dan sekarang aku bahagia dengan keluargaku…” tandasku.
“Please, Ping, aku butuh tangan dinginmu untuk menyeleksi para peserta. Acara ini sangat penting, pemenangnya akan mengikuti acara yang sama di tingkat Asia.”
“Kau tahu, Dan, aku sama sekali tak tertarik lagi muncul di televisi,” kataku sambil menelan ludah. Jujurkah aku pada diriku sendiri?
“Bahkan kalau boleh kukatakan, aku menyesal pernah menjadi seorang artis. Mereka, wartawan wartawan itu tak punya perasaan. Menguliti kehidupan pribadiku, sampai ke tulang sumsum…”
Danny tertawa
“Aku jamin, tidak akan ada lagi wartawan yang membuntutimu. Aku akan memberikan penjagaan ekstra ketat untukmu. Kau hanya perlu tampil dua jam setiap minggunya. Dari audisi sampai kita mendapat seorang jawara. Enam bulan, aku janji.”
“Well… kupertimbangkan.”
“Please, berjanjilah, Ping. You’re my only hope. Sebagai tambahan, pihak sponsor menyediakan honor yang memuaskan!”
Aku tertawa sumbang. Honor? Hem…sebandingkah dengan risiko yang mungkin kuterima? Aku mulai gamang. Saat ini aku butuh banyak uang untuk mengobati Dinda, putri semata wayangku yang mengidap kelainan jantung bawaan. Lagipula yang meminta adalah Danny, dia teman ’seperjuanganku’. Kami sama sama merangkak dari bawah hingga menjadi artis terkenal. Di pertengahan karier, dia putar haluan menjadi produser, sekaligus merintis manajemen artis plus mendirikan sebuah event organizer, seperti impiannya. Sementara aku menikmati kepopuleranku sebagai artis multitalenta.
Film yang memasangku sebagai pemain utama selalu meraup jutaan penonton. Lagu-laguku tembus hingga ke negara tetangga. Produk dari iklan yang kubintangi selalu mencapai penjualan yang luar biasa. Tak terhitung acara yang memajang ku sebagai presenter. Semua itu berakhir hanya dengan satu kata. Sukses.
Sampai prahara itu datang.
“Pingkan, are you still there?”
Aku tergeragap. Tak menyadari Danny yang masih menunggu jawabanku. Dia sahabat paling setia. Sampai saat ini belum beristri, tapi tahu benar bagaimana menjaga perasaanku sebagai wanita. Bahkan dia juga yang membantu pelarianku dulu.
“Oke. Tapi aku punya syarat untukmu.”
“Apa pun.”
“Jangan pernah memintaku untuk menanggalkan jilbab, mengomentari penampilanku, apapun yang kupakai!”
“Deal!”
Pingkan Anjanni, siapa yang tak kenal nama itu. Di awal tahun 2000, aku adalah artis paling bersinar yang dimiliki bangsa ini. Puluhan film layar lebar, ratusan judul lagu hits, sejumlah iklan dan acara acara penting akan bertambah gengsinya dengan kehadiranku. Semua orang mengelu-elukanku. Bahkan aku punya klub penggemar yang setia mengikuti perkembangan beritaku. Bukan hanya remaja, tapi juga anak anak dan orang tua. Mereka menjadikan aku trend center. Semua yang kulakukan akan diikuti. Gaya berpakaianku, caraku ber-make up, bahkan caraku berbicara. Apalagi aku termasuk artis yang bersih dari gossip. Tentu saja, aku mati matian menjaga imej. Aku tak ingin karir yang susah payah kubangun kandas hanya karena kebodohanku. Apalagi kakek yang semula tak setuju dengan pilihan karirku, mulai mendukung. Aku tak boleh mengecewakannya.
Tapi, bagaimanapun aku tetap manusia biasa. Aku menjalani fase-fase kehidupan sebagaimana manusia biasa pula. Jatuh cinta, menjalani masa pacaran, dan menikah. pesta pernikahan mewah yang menelan dana ratusan juta itu menyedot jutaan mata pemirsa televisi. Banyak yang memprediksi bahwa karirku akan redup seiring dengan kesibukanku menjalani rumah tangga. Apalagi Ryan, lelaki yang kunikahi memang berbeda profesi denganku. Aku tak peduli. Toh, meskipun itu terjadi, aku sudah cukup bahagia dengan pilihan hidupku. Dan Ryan adalah lelaki yang sangat kucintai.
Namun, hari bahagia itu adalah awal malapetaka buatku. Apakah harus ku sebut ia malapetaka? Atau justru klimaks perjalanan hidupku?
Entah dari mana sumbernya, gossip itu mulai ramai menghiasi acara infotaintment. Pingkan Anjanni, seorang artis ternama ternyata adalah seorang anak haram, hasil hubungan gelap seorang wanita bernama Ninda dengan seorang petinggi negeri. Dan yang lebih tragis, Ryan, suamiku disebut -ebut sebagai saudara sedarahku dari istri sah pejabat tersebut.
Aku terkulai lemas. Jujur aku tak tahu persis asal usulku. Mamaku, Ninda Anjanni meninggal dunia saat melahirkanku. Dan aku tak pernah tahu siapa papaku. Aku besar di bawah asuhan kakek dan nenek yang sangat mencintaiku. Dan mereka begitu pandai mengunci mulut. Aku tak mampu memaksa. Maka, saat tampil dalam jumpa pers, klarifikasiku tampak gamang. Kalimatku tak meyakinkan. Sikapku mencurigakan. Bahkan Ryan yang mendampingiku mulai gamang. Ada banyak fakta yang merujuk pada kebenaran gossip itu. Tinggal satu hal. Pernyataan dari Adrian Wiraguna, ayah Ryan, ayah mertuaku, yang disebut sebut sebagai ayah kandungku.
Gossip itu semakin liar. Semua menuntut kebenaran. Aku menjadi begitu phobia pada wartawan. Persis Lady Di dibelahan bumi sana dahulu. Aku tak punya privacy lagi. Bahkan aku merasa selalu ada mata yang mengawasi setiap gerak gerikku. Tak ada jalan lain, aku harus membuktikan bahwa semua itu hanya gossip murahan. Kerjaan iseng waratawan yag tak punya bahan berita. Dan aku hanyalah korban. Terlebih sejak gossip itu beredar, suamiku tak berani lagi menyentuhku. Ia memiliki kekhawatiran yang sama. Harapan yang sama.
Tes DNA adalah jalan keluar. Dengan hati hati ku utarakan niatku pada Ryan. Ia setuju dan meminta kesediaan papanya. Namun diluar dugaan, aib itu terkuak.
Ternyata wartawan memang dibekali dengan indera keenam. Atau paling tidak hidung anjing pelacak, sehingga mampu mengendus kebusukan yang tersimpan puluhan tahun, bahkan dalam radius puluhan kilometer!
Aku limbung. Kebenaran itu begitu menyakitkan. Aib itu begitu memalukan. Dan para tukang gossip diluar sana semakin beringas. Akupun melarikan diri ke desa terpencil di kaki gunung nun jauh dari ibu kota, jauh dari hiruk pikuk dunia. Terpaksa bercerai dari Ryan, kutolak kehadiran papa yang mencoba memohon maaf dariku. Tidakkah dia mengerti? Dosa yang tanpa sengaja kulakukan. Menikah dengan kakak kandungku sendiri!
Pingkan Anjanni menghilang. Mengundurkan diri dari panggung hiburan yang membesarkanku, tapi juga menyakitiku. Sayang, aku tak mampu menolak janin yang telah terlanjur hadir dirahimku. Dibawah bimbingan seorang ustadz, aku menjalani pertaubatan. Merasakan kesejukan islam yang menyentuhku perlahan lahan. Meski agamaku Islam sejak lahir, ibadahku hanyalah ritual tak bermakna. Hatiku tak peka akan kenikmatan-Nya. Aku ingin meraihnya. Dan yang terpenting, aku harus melindungi buah hatiku dari dunia keartisan yang kejam.
Tapi kini… Tawaran itu menggodaku. Dinda, putriku yang membuatku bertahan hingga kini tak pernah lama menikmati keceriaannya. Kelainan jantung bawaan membuatnya tak bisa sempurna ceria. Cacat itu mungkin karena darahnya mengandung gen yang sama. Rekeningku tak boleh kosong karena Dinda butuh perawatan. Sementara warisan dari kakek kian menipis. Lagipula, darah seni yang mengalir deras ditubuhku selalu membuatku rindu berakting. Atau paling tidak muncul di televise. Sekedar say hello. Tapi apakah orang orang di luar sana telah melupakan kisahku? Bahkan meski telah sepuluh tahun lewat!
***
“Welcome home, Pingkan Anjanni. Dunia ini selalu akan menjadi surgamu ”
Danny menyambutku. Sekilas dia hendak memelukku, tapi urung menyadari penampilanku yang tertutup baju kurung rapat. Aku tersenyum. Ini ruangan pribadinya. Beberapa asistennya tampak hilir mudik. Sesekali melirikku. Acara belum dimulai, tapi ratusan, mungkin ribuan peserta audisi sudah memadati stadion. Artis rupanya sudah menjadi cita-cita sebagian besar remaja negeri ini. Tak peduli berbakat atau tidak.
“Aku janji, Dan, ini yang terakhir.”
Danny tersenyum, “Boleh kutahu kenapa akhirnya kau menyerah?”
“Aku berhak untuk tidak memberimu alasan.”
“Kau masih seperti yang dulu Ping.” Dia meneliti penampilanku. “Kau cantik dengan jilbab lebar itu. Tapi kalau boleh kuminta, gantilah jilbabmu dengan yang lebih modis!”
“Well, kita sudah sepakat. Kau tidak akan mengusik penampilanku. Kau hanya butuh naluriku untuk mencari calon superstar,” suaraku meninggi.
“Oke… oke… selalu ada pengecualian. Terutama untuk seorang Pingkan Anjanni. Semua orang merindukanmu. Acara ini live di Star TV. Aku sudah menyiapkan kru untuk mengantisipasi apapun. Tak usah khawatir. Lagipula telah sepuluh tahun lewat? Aku yakin orang orang telah melupakan kisahmu ”
Aku tersenyum kecil. Tapi senyumku hilang saat memulai audisi. Remaja-remaja ini! Mereka hanya tahu kalau artis adalah profesi yang luar biasa. Terkenal, banyak uang. Tak memikirkan risiko. Bahkan sama sekali tak menyadari kalau kebanyakan dari mereka tak berbakat. Hanya berbekal semangat, nekad, bahkan beberapa pingsan ketika antrean mulai tak teratur. Miris. Yang lebih parah, saat audisi, mereka memakai pakaian mini, seksi, mengumbar aurat. Mereka pikir dengan memamerkan tubuh, akan memuluskan jalan mereka? Huh! Bayangkan! Dari 2.500 nomor peserta, hanya 20 yang kunyatakan lolos ke tahap seleksi berikutnya. Dan rekan-rekan juri yang lain berpendapat sama.
Ruangan audisi sudah sepi. Ingar bingar musik, tawa yang lolos dan tangis yang gagal sudah menguap. Lelah. Aku teringat Dinda, putri cantikku. Sesungguhnya dia memiliki bakat yang besar untuk menjadi seorang bintang. Darah seni yang kuwarisi mengalir pekat di tubuhnya. Tapi aku mati-matian menghindarinya berkenalan dengan dunia itu. Cukup aku yang menjadi korban.
“Mama, semalam Dinda bermimpi buruk. Mama hati-hati ya.”
Gadis kecil itu memelukku erat. Ditemani Andin, adikku, ia mengantarku ke bandara tadi pagi. Jakarta adalah kota pertama yang akan mengadakan audisi. Dan setelah sepuluh tahun, untuk pertama kalinya, aku akan menginjakkan kaki dikota itu lagi.
Aku tertawa kecil.
“Insya Allah, Sayang. Nanti mau Mama bawain apa?”
Dinda menggeleng.
“Dinda nggak mau apa-apa. Dinda cuma ingin nanti malam nggak bermimpi. Dinda nggak mau mimpi buruk lagi.”
Aku mengernyitkan kening.
“Insya Allah, kalau Dinda minta sama Allah, pasti dikasih. Kenapa Dinda nggak minta diberi mimpi yang indah?”
Dinda menatapku. Matanya!! Tuhan, bagai ada mutiara yang tenggelam di sana.
“Malam ini, Dinda nggak ingin bermimpi. Kalau Mama sudah pulang baru Dinda mau bermimpi lagi …”
“Ping, pasukan khususmu sudah siap…”
Aku tergeragap. Bayangan Dinda sepenuhnya hilang. Danny tersenyum menyaksikan kekagetanku.
“Luar biasa, nalurimu tak pernah padam. Hasil audisi tadi sangat memuaskan. Honor minggu ini langsung ditransfer ke rekeningmu. Kita ketemu lagi minggu depan di Banjarmasin. Tiketmu akan kukirim.”
Aku mengangguk. Tanpa bicara, diikuti setengah lusin anak buahnya, aku keluar studio melalui ‘pintu rahasia’. Pintu rahasia itu berada di lantai dua. Di luarnya, ada tangga penghubung yang menuju jalan setapak, langsung ke jalan raya dan tertutup rimbun daun kembang sepatu. Danny selalu menggunakannya untuk menyembunyikan para artis dari kejaran fans dan wartawan.
Tapi, ya Allah, di bawah tangga, ratusan orang telah menyemut! Belum lagi wartawan yang pasti menunggu kabar dariku. Hari ini, Pingkan Anjanni yang telah lama menghilang muncul di televisi. Tentu saja itu akan menjadi berita besar. Mereka akan memakai segala cara untuk mendapat gambar dan secuil berita dariku. Tuhan, kenapa aku tidak memperhitungkan hal ini?
Kutatap Danny. Dia tampak panik. Orang orang yang disebutnya sebagai ‘pasukan khususku’ pun tampaknya tak dapat diharapkan. Tak ada cara lain. Aku harus mencari sendiri jalan untuk keluar dari situasi ini. Aku tak akan membuka mulut untuk mereka, wartawan wartawan itu. Aku tak akan mebiarkan kehidupan pribadiku di usik lagi.
Ada harus nekad, menuruni tangga tangga keramik, lalu secepatnya melarikan diri, berkelit diantara pohon pohon kembang sepatu. Sulit dan sedikit curam memang, tapi melangkah, meskipun dengan risiko adalah lebih baik daripada diam menunggu.
“Mbak…mbak… mbak Pingkan, bagaimana anak Anda? Anda punya anak kan dari perkawinan dengan Ryan dulu? Anak sekaligus keponakan?”
Aku tersentak. Tuhan, tolong aku, biarkan aku pergi!
“Mbak …anak Anda sudah besar. Sepuluh tahun mungkin. Apakah dia tahu siapa bapaknya?”
Tuhan, tidak bisakah mereka membiarkanku hidup tenang? Aku menggeleng tanpa sadar. Mataku berkunang-kunang menyambut kilatan blitz yang menyilaukan. Dalam kepanikan aku tak memperhatikan langkahku, tak sadar aku menginjak pinggiran tangga keramik itu, membuatku terpeleset. Padahal masih ada 8 anak tangga lagi yang harus kulalui. Wajah Dinda membayang. Tubuhku terasa ringan saat bergulingan di tangga keramik itu. Lalu jatuh berdebam dij alan yang ditutupi paving blok. Kepalaku menghantam ujung runcing tangga keramik yang keras. Ada yang basah di sana. Perih. Sebelum kesadaranku tercabut sempurna, kudengar lagi suara Dinda.
“Mama, malam ini, aku tak ingin bermimpi.”

Dalam Hujan Aku Mencintaimu

Fajar menyingsing sempurna. Keindahan itu tak sebanding dengan bahagianya hati ini mencintai Dema. Mungkin itulah, mengapa Tuhan menegurku. Setiap hati ini mengingat Dema begitu dekat, Tuhan selalu menegurku.
Entahlah…, aku tahu Tuhan itu pencemburu. Makanya, kerap aku jalan dengan Dema, Tuhan menyambutnya dengan hujan. Cemburukah Tuhan pada Dema? Mungkin lelaki itu terlalu besar memiliki ruang di hatiku. Sisanya baru Tuhan.
Agaknya, Tuhan tak mau kuberi ruang sisa. Ia selalu menegurku dengan hujan, saat hati ini sangat mencintai Dema. Aku tak habis pikir pada Tuhan, mengapa semarah itu  melihat kedekatanku dengan Dema. Apa salahku dan Dema?
Suatu pagi, Dema membuatkan aku susu. Sementara badanku masih lelah bekas begadang semalam.
“Selamat pagi, Sayang…!” sambut Dema sambil mengecup keningku.
Aku tersipu melihatnya telah siap berangkat kerja. Padahal aku belum sempat menyeterika baju kerjanya, belum sempat menyiapkan sarapan untuknya, bahkan aku sendiri belum siap apa-apa. Masih terbaring di tempat tidur dengan rona sangat malas.
“Sayang, maaf…”
“Ssst…kamu tidur saja.  Nih, aku buatkan susu biar kamu ada tenaga. Baik-baik di rumah ya, Sayang, suamimu ini pergi sejenak mencari emas buat makan,” kata Dema sembari mengecup keningku lagi. Senyumnya bak telaga yang menghangatkan jiwa. Tangannya yang kasar berbanding terbalik dengan sentuhan yang kurasakan. Begitu lembut.
Dema tak pernah banyak menuntut. Ia suami  yang sangat bertanggung jawab. Itulah sebab mengapa aku amat mencintainya, mungkin dengan porsi yang sangat berlebihan sehingga ruang di hati ini tak begitu banyak menyimpan Tuhan.
Pun cinta yang kutanam bersama Dema, berbunga di hati kami berdua. Tapi, tidak bagi orang lain, termasuk di mata orang tuaku. Mungkin bunga itu kering dan berguguran di mata mereka.
Ya, Dema memang hanya seorang pekerja kasar. Sementara aku hanya bisa mengandalkan hidup dari hasil menjual tulisanku. Itu pun tak tentu.
Kehidupanku dan Dema bagai dua sisi mata uang yang terkadang berubah-ubah. Sedih dan senang. Sedih kusebut hujan, dan senang kunamai fajar sempurna.
Secara ekonomi, aku lebih  sering bertemu hujan dibanding fajar sempurna. Namun  fajar sempurna sering aku jumpai dalam gairah hidup. Aku senang jika bersama Dema, walau dalam kondisi apapun. Dema memiliki gairah hidup yang tinggi.
Meski dari awal, orang tuaku tak pernah setuju jika aku menikah dengan Dema, tapi itu tak membuat cintaku pudar dan keputusanku surut untuk berlayar menuju bahtera bahagia bersama kapal yang kami buat bersama.
Dan kapal itu kunamai perahu emas. Dema nahkoda dan aku adalah perahunya. Perahu akan turut kemana nahkoda membawanya pergi bukan? Terkadang badai di tengah perjalanan sering hinggap, tapi Dema pantang menyerah, ia selalu berusaha membawaku sampai pada tepi. Tepi yang kuinginkan untuk bersandar. Dan aku begitu nyaman.
Dari hujan, aku belajar mencintainya. Mencintai suamiku dalam kondisi apapun. Dari tangannya yang kasar, dari nafasnya yang lelah, dari pemberiannya yang emas. Dari hujan aku belajar bagaimana untuk tersenyum, menjadi tegar, berkorban dan berbagi bersama Dema.
“Bagaimana kau bisa bahagia, Nak, jika kau hidup di rumah kontrakan yang sempit ini? Keluarlah, kembalilah bersama kami. Hidupmu akan terjamin dengan fasilitas mewah yang biasa kau dapatkan,” tutur ayahku di awal pernikahanku bersama Dema.
Benarkah Tuhan mengutuk anak yang memutuskan untuk menikah dengan pilihannya sendiri? Benarkah pula, kemapanan yang dapat membeli kebahagiaan di dunia ini? Benarkah…
Oh Tuhan…, dengan hujan Kau menegurku, tapi dalam hujan aku semakin mencintai suamiku. Tak bermaksud aku durhaka pada orang tua, jika alasan mereka menolak Dema bukan karena Dema belum mapan, mungkin bisa kuterima. Tapi ini lain…!
Cintaku pada Dema kurajut dalam mimpi. Mimpiku dan Dema adalah mempersembahkan perahu emas pada orang tua kami. Perahu itu dibalut oleh empat komponen yaitu doa, ikhtiar, optimis dan tawakal. Perahu itu dirancang mewah untuk menghadap Tuhan di tempat yang terbaik. Perahu itu akan membawa kami bertemu di taman firdaus yang sering kami adukan pada Tuhan. Kami rela, dalam perjalanan untuk mendapatkan itu kami sering kehujanan.
Dan Tuhan tak pernah tidur. Jika perahu emas kami diguyur Tuhan dengan hujan, Dema mengajariku untuk sabar dan syukur. Itulah yang membuatku bahagia bersama Dema. Sebesar apapun badai itu, kuyakin dapat kulalui  dengan perahu emasku.
“Ayah tak butuh perahu emas. Tapi ayah butuh Dema bisa membahagiakanmu dengan rumah yang layak beserta isinya. Apa itu salah?” Ayah kembali mengucilkan Dema di depanku.
“Apalagi, sekarang kamu sedang mengandung. Apa mau nanti anakmu terlahir di rumah kontrakan ini? Dan melihat betapa hidup ini nestapa? Betapa dunia ini menyedihkan?”
Ayah…Aayah…, tiada anak yang mau menyengsarakan anaknya. Begitupun aku. Batinku bertutur lirih, tanpa membuat bibir ini mengeluarkan kalimat itu di depan Ayah.
“Pulanglah, Nak. Melahirkan di rumah sakit saja dengan dokter keluarga yang profesional.” Kali ini Ayah merajukku, serius.
“Maaf, Ayah, ini adalah tanggung jawab suamiku. Biarkan ia yang mengurus itu semua. Ayah tak usah khawatir…”
“Kamu memang keras kepala! Mau diajak hidup enak kok susah…” tukas Ayah ketus sambil melengos pergi. Dan mungkin tak akan mengengokkan wajahnya lagi ke belakang.
Ayah… Ayah…, kau tak tahu bahwa saat ini anakmu amat bahagia. Tak peduli rumah kontrakan, bagiku yang penting adalah rasa.
Tak lama setelah Ayah pergi tanpa salam, awan yang sedari tadi mendung kini membuncah dingin. Hujan datang dengan deras disertai kilat yang menyala-nyala. Seperti biasa, jika hujan datang, rumah kontrakanku selalu kebocoran. Bahkan kebanjiran.
Rembesan air bak sungai yang tampak nyata mengalir di sudut-sudut dinding. Aku sibuk sendiri menyiapkan ember agar rembesan itu tidak membanjiri lantai. Namun, tiba-tiba perutku amat mulas dan sakit sekali, seperti akan ada yang mendorong bayiku keluar. Bahkan bayiku pun ikut berontak di dalam perut, hingga rasanya sangat kacau.
Aku berteriak sekencang-kencangnya menahan nyeri yang teramat, ketubanku pecah dan terlihat darah di sela-sela betis. Dalam panik, aku melirik jam. Dema baru akan pulang satu jam lagi. Oh Tuhan…
Gelap.
Itulah yang aku rasa saat beberapa waktu yang lalu. Tersadar, aku sedang berada dalam becak dalam pelukan yang hangat. Kuraba tangan kasar itu, tak salah lagi, itu adalah Dema.
“Sayang…, kamu baik-baik saja kan? Tadi aku melihatmu terbaring di lantai bersimpuh darah.”
Aku tersenyum menyadari aku masih hidup. Dan melihat Dema di sampingku.
“Ssst, cukup, jangan banyak bicara dulu. Kita akan ke rumah sakit,” katanya sambil menciumi kepalaku.
Rasanya ingin sekali mengatakan bahwa aku amat tenang di sampingnya. Tapi mulas ini seakan mengunci rapat bibirku. Aku hanya bisa mengerang kesakitan.
“Arrrrrghhhh…”
“Sayang…, sabar yah! Sebentar lagi kita sampai.” Dema terus menggenggam erat tanganku.
Sayang, aku mencintaimu. Meski dingin terus menerjang, awan berubah hitam, dan mataku sembab. Aku tetap mencintaimu. Sangat mencintaimu. Batinku berbisik dalam sakit.
Tuhan…, kini aku sadar bahwa hujan-Mu bukanlah teguran. Dalam hujan, rumah kontrakanku banjir, tapi Dema selalu tersenyum menghadapi itu. Itulah yang membuatku kuat. Kini dalam hujan, ia membawaku berjuang menghadapi hidup dan mati mempertahankan bayi ini. Itulah yang membuatku yakin bertahan.
Dan hujan, kerap meninggalkan jejak basah di hatiku, serupa gerimis yang mengalir pelan di pipiku saat itu.

Jenggot

Lumpur di lorong-lorong Pasar Cempaka sudah mengering sejak beberapa jam lalu. Siang ini aktifitasnya sudah tidak seramai pagi tadi. Namun bau amis, busuk, kecut, harum, dan segala macam bau masih dapat dicium dengan jelas. Lalat-lalat pun masih mencari nafkahnya di antara sumber bau.
Beberapa meter dari situ, terdapat seorang pemuda yang tengah sibuk memperhatikan sekitarnya. Penampilannya persis mata-mata. Kaca mata hitam, topi hitam, dan jaket hitam. Hampir semuanya hitam, kecuali gigi, kulit, dan celana abu-abu yang belum sempat ia tanggalkan sepulang sekolah. Ia tidak ingin keberadaannya di pasar itu diketahui oleh orang lain, apalagi teman-teman sekolahnya. Langkahnya tampak terburu menuju kios bumbu-bumbu masak.
“Bu, beli kemiri seperempat kilo!” ujar pemuda itu seraya memberi uang lima ribuan kepada si penjual. Proses transaksi tak berlangsung lama, langkahnya kembali terburu meninggalkan kios.
***
“Assalamualaikum!” teriak Budi yang disusul dengan hentakan pintu yang dibanting.
“Waalaikumussalam. Bud, makan dulu,” ujar ibunya. Namun tak dihiraukannya. Dengan cepat Budi sudah berada di lantai dua, menuju kamarnya berada.
“Inilah saatnya melakukan ritual itu!” Budi tampak bersemangat. Segala atribut dan perlengkapan “ritual” pun telah siap.
“Hm… tunggu dulu…” Budi ingat sesuatu.
Ckleck!
Kamarnya ia kunci, khawatir kalau ibunya tiba-tiba masuk kamar sewaktu-waktu.
Kemiri dibakar. Tunggu sebentar. Diperes minyaknya. Terus minyaknya dioleskan di tempat yang diinginkan.
Budi mengikuti semua catatan intruksi dari Ujang, teman baiknya yang telah berhasil menumbuhkan jenggot dengan eksperimen minyak kemiri.
Sebelum mengoleskan minyak ke janggutnya, terlebih dahulu otaknya berkhayal tentang wajahnya yang ditumbuhi jenggot. Otaknya memilih-milih model jenggot yang sekiranya pas dengan mukanya yang lonjong. Rhoma Irama, Onci Ungu, Surya Saputra, dan sejumlah artis berjenggot pun menjadi referensi.
Dengan tangan gemetar, entah karena tidak sabar atau grogi, perlahan ia mulai mengoleskan minyak kemiri ke janggutnya yang plontos polos. Tak lupa lafadz doa terucap khidmat dari mulutnya, berharap jenggot segera tumbuh.
***
Sudah lama sekali Budi ingin memiliki jenggot. Tapi sampai sekarang belum juga janggutnya yang mulus itu ditumbuhi jenggot.
Sebenarnya ia bukan orang yang kekurangan hormon penumbuh bulu. Terbukti dari lebatnya bulu kaki, kumis, dan segala tempat yang ada bulunya. Namun entah kenapa hanya jenggot yang belum ia punya. Terkadang ia sempat kesal ketika temannya ada yang mempertanyakan perihal jenggotnya.
“Bud, jenggot lu ke mana?”
“Hm…setiap hari gw cukur terus, habis gw gak suka jenggot sih,” jawab Budi seadanya. Meski berbohong, dalam hatinya ia ingiiin sekali punya jenggot. Ia kesal karena hanya dia yang belum punya jenggot di antara teman-temannya. Padahal kini ia sudah kelas 3 SMA!
Banyak alasan kenapa Budi ingin sekali punya jenggot. Di antaranya adalah melengkapi kejantanannya yang kurang, menutupi bekas lukanya yang ada di dagu, dan buat jadi pelengkap kebiasaannya mengelus dagu saat berpikir. Gak keren rasanya kalau ngelus dagu tapi gak ada jenggotnya. Namun di balik itu semua, alasan yang paling kuat adalah karena ia sempat ditolak sama adik kelas yang sudah lama ia incar, Lola namanya. Ia ditolak dengan alasan si doi gak suka kumis. Katanya kumis sudah gak jaman. Si doi lebih suka cowok yang punya jenggot. Lebih keren katanya.
“Jangan pernah datangi aku jika kau tidak punya jenggot!” ujar Lola seperti dialog sinetron di akhir proses penolakan.
Selama ini Budi percaya bahwa kumis adalah sumber kejantanan. Karena Bapaknya menaklukan Ibunya lewat model kumis yang sedang populer saat itu. Dengan kata lain, tanpa kumis mungkin Budi tidak akan pernah ada di dunia ini. Namun Budi segera sadar, kejayaan kumis telah hancur seiring hancur hatinya karena ditolak Lola. Lola suka jenggot. Titik. Gak pake kumis.
Satu minggu… dua minggu… dan akhirnya jadilah 3 bulan. Budi mengahampiri Ujang dengan geram. Ia protes. Pasalnya ia sudah mengoleskan minyak kemiri 3 kali sehari setiap sehabis makan, tapi jenggot belum juga hadir di jangutnya hingga sekarang.
“Jang, lu bohong nih! Mana khasiyat kemiri yang lu janjikan? Buktinya sampe sekarang gw belum juga ada jenggot!” protes budi setengah berbisik kepada Ujang di kantin sekolah. Ia tak ingin teman-temannya yang lain tahu kalau ia sedang berusaha menumbuhkan jenggot.
“Sabar donk Bud. Sruuup… Baru juga 3 bulan. Nyamm nyamm… Gw aja dulu ampe setahun! Glekh…” jawab Ujang sambil mengunyah mie goreng pesanannya.
“Gak bisa, Jang. Mana bisa gw nunggu setahun. Nanti keburu kita lulus. Kalau kita lulus kesempatan gw buat ketemu Lola kan jadi susah.”
“Ya kan belum tentu lu lulus, Bud.”
Satu jitakan mendarat di kepala Ujang.
“Serius donk Jang!”
“Hehe… iya iya. Duh, gitu aja marah,” kata Ujang sambil tangan kirinya ngusap-ngusap kepala yang habis dijitak Budi. Tangan kanannya tampak siap memasukkan mie goreng ke dalam mulutnya lagi.
“Lu punya solusi lain gak?” tanya Budi.
Ujang hanya menggeleng. Mulutnya penuh dengan mie goreng. Tak lama kerongkongannya bergerak. Glegh!
“Emang kenapa sih lu demen amat sama Lola? Ampe lu bela-bela numbuhin jenggot gitu.”
“Wah, cinta gw buat Lola gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Jang! Itu cewek imut banget! Senyumnya bagai sabit bulan di tengah malam. Alisnya bak semut beriring. Rambutnya halus sehalus bulu domba…”
“Matanya kaya bola pingpong gak?”
“Hem, hampir.”
“Hidungnya?”
“Licin dan mancung kaya perosotan taman.”
“Kupingnya?”
“Bodo ah!”
Makin hari Budi jadi lebih rajin. Rajin ke warnet, ke perpus, dan berdoa. Tapi bukan rajin belajar biar pinter, melainkan rajin cari tahu bagimana menumbuhkan jenggot. Tak lupa, ritual minyak kemiri tak ia tinggalkan.
Cintanya buat si Lola rupanya sudah sampai ke ubun-ubun. Setiap ada cewek yang dia lihat, selalu menjadi Lola. Guru yang mengajar di kelas adalah Lola. Penjual gado-gado di kantin adalah Lola. Sampai-sampai Kepala sekolahnya adalah Lola. Lola… oh Lola… tapi khayalannya selalu terputus saat ia melihat lelaki berjenggot.
Oh iya, jenggot!
Ia kembali berfikir keras untuk menumbuhkan jenggot. Percuma dia mendekati si Lola kalau dia belum punya jenggot.
Berbagai cara ia lakukan. Mulai dari makan makanan yang dipercaya dapat menumbuhkan jenggot, sampai melaksanakan pantangan-pantangan yang menyebabkan jenggot rontok.
Alhasil, usaha kerasnya kini berbuah manis, jenggot Budi tumbuh! Namun baru sebatas bulu halus. Berselang 2 meter, bulu halus itu sudah tak jelas terlihat. Ah, Mana bisa dapetin cintanya Lola kalau begini?
“Jangan pernah datangi aku jika kau tidak punya jenggot!”
Kata-kata Lola kembali terngiang.
***
Hari ini, seperti biasa, setiap seminggu sekali Budi pergi ke Pasar Cempaka untuk membeli kemiri. tapi kebiasaannya itu terpaksa tertunda beberapa jam karena ia ketiduran. Tapi tetap, pasar yang berjarak lebih dari 2 kilometer dari rumahnya itu ia datangi dengan berjalan kaki. Namun setelah dekat dengan lokasi, langkahnya terhenti. Matanya terkesiap dan meniti orang-orang yang panik dan berlari. Sementara beberapa meter, si jago merah tampak menari sendiri. Pujian angin buat api makin percaya diri. Tapi lain halnya dengan si Budi. Ia jadi panik. Jantungnya bertentum bagai bola basket yang terpantul. Sedang tubuhnya diam mematung. Sesekali matanya ia sapukan, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.
Entah bisikan dari mana, langkahnya mulai hidup kembali. Budi ikut berlari. Tapi tidak sembunyi. Ia ikut membantu mengambil air dengan mencontoh orang-orang yang dari tadi sudah mencari.
Setelah tiga jam, tarian api baru bisa berhenti. Meninggalkan gores luka yang kian meninggi. Tak ada yang tersisa. Termasuk kios kemiri.
Semua orang lelah. Termasuk Budi. Matanya masih menatap sisa-sisa bangunan yang habis dimakan api. Ada satu hal yang ia sadari, bahwa ia bisa saja mati jika saja ia tidak terlambat tadi. Ia kini paham,  kematian bisa hadir kapan saja.
Jantungnya Budi masih berdegub kencang, air matanya mengalir. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia melupakan Lola lebih dari tiga jam. Budi tak sadar itu.
***
Waktu bergulir dengan pasti. Tak ada yang tahu kemana arah skenario kehidupan yang ditulis Tuhan. Sepeninggal kejadian di pasar itu, Budi berubah. Ia tidak seperti biasanya. Ia sekarang rajin sholat, setidaknya untuk beberapa minggu ini. Namun itu semua memberikan dampak yang signifikan pada wajahnya. Selain mukanya lebih segar, kini ia punya jenggot! Jenggot dalam arti yang sesungguhnya. Tidak sekedar bulu halus, tapi jenggot tulen! Entah apa karena air wudhu yang sering mengalir di wajahnya atau memang karena minyak kemiri sudah memberikan efeknya. Yang pasti, meski hanya 3 helai, ia bangga telah memilikinya.
Tapi bagai kacang lupa ingatan, memang dasar si Budi, sudah punya jenggot bukannya Tuhan yang diingat, tapi malah sosok Lola yang dilihat. Matanya kembali berapi-api. Jantungnya beradu ramai. Jenggotnya bergoyang-goyang, tanda tekadnya sudah bulat. Ia akan menembak Lola lagi! Kali ini dengan jenggot 3 helai sebagai saksinya.
Lola, akan kupinang engkau dengan jenggotku!