Jumat, 02 Maret 2012

Ketika Arjuna Jatuh Cinta Ketika Arjuna Jatuh Cinta

Degup jantung Arjuna mulai naik turun, keringat dingin pun mulai membasahi kulit putihnya. Mulutnya bagai terkunci, pikirannya tiba-tiba saja hilang. Sosok cinta yang ditatapnya dengan tidak sengaja itu, langsung menancap di dasar isi hatinya, padahal sudah sekuat tenaga dia menahan untuk tidak melihatnya. Tapi apalah daya, di saat dia mendongakkan kepalanya perlahan. Cinta menatapnya dengan pekat, dia memperhatikan dengan serius, tanpa bicara.
“Arjuna…? Kamu sedang sakit?” Miss Stefinaky yang saat itu menjadi moderator tiba-tiba menepuk bahunya. Tak lama terdengar suara riuh mahasiswa Universitas Tokyog, yang saat itu sedang mengikuti lomba Ikebana—merangkai bunga yang diadakan setahun sekali untuk menyambut Hinami—perayaan musim semi di Jepang. Mereka tertawa dan geli melihat kecanggungan teman terpintar mereka. Arjuna makin gelagapan, cinta melihatnya, kini dia tertawa.
Oh Tuhan…cantik sekali. Arjuna melupakan bunga yang sedang dirangkainya. Pagi itu tiba-tiba saja menjadi hal yang membosankan dan melelahkan bagi Arjuna Dwitama, cowok impian semua mahasiswi di Universitas Tokyo, darah Indonesia itu sering kali menjadi bahan obrolan mahasiswi-mahasiswi karena ketampanan dan keramahan dia. Apalagi Arjuna adalah salah satu nominasi terbaik yang karya Ikebananya sering mengilhami mahasiswa untuk mencintai alam dan bunga-bunga. Dan kini ia sedang dilanda virus merah jambu kepada Cinta yang saat itu sedang duduk tepat di depannya.
“Maaf, Miss…anuu…saya….eeh…”
”Kebelet nih, Jun!” Tawa riuh kembali menghiasi seisi ruangan, membuat Arjuna merah padam. Tapi, bukan itu.. sungguh bukan itu, dia malu.. bukan karena ditertawai oleh teman-temannya. Sekali lagi, bukan itu—Cinta sedang tersenyum padanya. Oh God! Biarkan waktu berhenti—benaknya memohon.
“Aku bingung, Tamaki!” ucap Arjuna sedikit menerawang ke arah langit-langit kantin yang mulai terlihat bocor akan tetesan air hujan akhir-akhir ini.
Tamaki Ikazura cuek sambil manggut-manggut, mulutnya penuh dengan oden hangat—masakan lobak, mie rebus, dengan campuran telur rebus, bekal makanannya siang ini, katanya sih—pacarnya khusus membuatkan untuknya untuk menghangatkan tenggorokannya—yang katanya sedang terlanda flu.
“Apa ini yang namanya cinta?” lanjutnya lagi.
Tamaki menyeruput kopi hangat tanpa aba-aba. Kembali dia menyantap oden-nya dengan buas. Sekarang tanpa manggut-manggut, kini dia geleng-geleng. Mengangkat tangannya serta pundaknya sedikit. Arjuna memperhatikan mie yang terurai dalam oden Tamaki yang sedang akan dimasukkan ke dalam mulut sobat satu asramanya ini. Mie panjang seperti rasa penasaranku pada cinta. Rasa inginku ingin memilikinya. Yah, seperti mie itu. Tapi, sepanjang itu pula rasa maluku untuk bilang padanya— oh.. Tamaki bagaimana ini?—benak Arjuna melompat-lompat, cemas.
Tamaki bukannya menjawab, malah serius bercerita tentang bekal makan siangnya yang tak mengugah hati Arjuna untuk makan bersamanya. Arjuna menghela napas panjang.
Dia baru tahu beginilah kalau sedang jatuh cinta. Padahal jujur saja, dia tidak percaya dengan cinta beserta embel-embelnya. Tapi gara-gara waktu itu, waktu dia mencoba menyendiri dengan mengikuti mata kuliah dari jurusan lain tanpa disibukkan dengan pekerjaan mata kuliah yang menumpuk, ataupun proposal yang harus naik “banding” dengan direktur tersayang, dia tak sengaja menangkap sosok alami Cinta yang menyadarkannya dari puluhan tahun, puasa naksir cewek. Padahal Cinta sudah lama di kampusnya. Hanya saja dia baru sadar kalau ternyata Cinta itu ada.
“Maaf, ini bangku saya…” Sosok gempal itu menghampiri Arjuna yang sedang lesu duduk di bangku belakang. Arjuna memperhatikan sejenak. Suaranya lembut namun tegas—seorang gadis, dengan jilbab putih berbadan subur dihiasi dengan wajah oval mirip sekali dengan bola kesukaan Andi, adik kesayangan Arjuna yang kini berada di Kalimantan.
”Maaf, memangnya di sini ada nama kamu, Dut?” ucap Arjuna cuek. Tak biasa memang ia bersikap angkuh. Hanya saja waktu itu dia sedang kehilangan sifat ramahnya karena tersandung dengan mood yang tumpang tindih akibat urusan proposal yang hampir di-drop out dengan bagian administrasi staf kampus. Langsung saja ia mengejek tanpa alasan.
Seakan tersinggung, dadis yang ada didepannya itu mendelik, dengan marah.
”Kalau tidak mau member ya jangan menghina!” Ia pun beranjak dari tempat duduk Arjuna, kemudian keluar dengan menenteng sebuah kursi. Suasana ruang kuliah Jurusan Lecture Art Japan itu tiba-tiba riuh dengan tawa seisi ruangan, ketika gadis berbadan subur tadi masuk dengan menenteng kursi.
Arjuna ternganga.
”Oh.. Ma…af…” suaranya lirih, tersedak di tenggorokan. Baru kali ini dia tidak sengaja menghina seorang wanita di depan mahasiswa-mahasiswa—gawatnya lagi, dia baru sadar dia tidak lagi sendirian di ruangan itu karena jurusannya sudah bubar hampir satu jam yang lalu.
Dia tidak sadar kalau Cinta itu adalah gadis yang berbadan subur yang barusan ia hina. Peristiwa itu terjadi saat Arjuna mencoba meminta maaf dengan gadis itu yang ternyata namanya adalah Yumiko Shafa. Namun, Arjuna senang memanggilnya Cinta.
”Saya memang sering dihina. Saya maklum,” ucap Yumi—gadis imut—berjilbab lebar dengan lesung pipit di pipinya yang oval apel itu.
”Bukan itu maksud aku. Aku tuh…”
”Anda tidak pantas berteman dengan saya!” kata-kata terakhir Yumi ini yang menepuk otaknya dengan keras. Hatinya pedih.
Tamaki cekikikan mendengar cerita Arjuna dengan raut wajah yang sebentar-bentar berubah jadi galak, kaget, tersipu-sipu, dan sedih.
”Kalau aku jadi kamu, Jun, cuekin ajalah, seperti nggak ada yang lain saja. Bukankah cewek-cewek di sini cakep semua, kenapa kamu malah kepincut sama cewek model seperti itu?”
”Namanya Cinta, Tamaki!”
”Ho-oh.. Terus apa istimewanya?”
“Ya, dia istimewa. Dia itu beda, karena….”
Ucapan Arjuna terhenti. Dia mulai mengerlingkan matanya, aneh. Oh, God! Dia baru sadar kalau selama ini dia menyukai Cinta—tanpa alasan.
”Karena…?” Mata dan mulut Tamaki pun mengikuti gerakan mulut sahabatnya tersebut. Arjuna tak berbicara sepatah kata pun. Entahlah. Kata-kata itu hanya sampai di ujung tenggorokannya. Tamaki menyeruput kopi hangatnya lagi, sambil diaduk-aduknya. Kemudian cengegesan tiba-tiba, dijulurkan lidahnya dengan sok centil. ”Karena dia endut ya? Ha..ha..ha!” celetukan Tamaki langsung dibalas dengan jitakan maut Arjuna.
”Sembarangan!”
”Orang Indo memang unik!” cengir Tamaki menyindir Arjuna. Ia hanya mencibir dengan memburu jitakan ke arah kepala Tamaki.
***
Dari obrolan gila Tamaki, Arjuna mulai memikirkan alasan apa dia menyukai Cinta. Yumiko—aku sering lupa kalau itu namanya—aku lebih suka dengan panggilan Cinta untuknya. Seorang gadis berketurunan dua negara—dengan Ayah keturunan Arab dan ibunya keturunan Jepang— berwajah oval, berlesung pipit dua dengan mata birunya yang saat berbicara seperti memberi kilatan pada orang yang melihatnya. Cinta itu memiliki wajah yang indah, senyumnya jarang diumbarnya, tapi sekali tersenyum seperti bidadari. Dia unik. Belum lagi, kata-katanya yang singkat, tapi jelas sekali. Arjuna mulai ingat, pernah suatu hari dia berpapasan dengan Cinta saat di dalam lab komputer kampus.
”Hai, lagi sibuk ya?” Arjuna menggaruk-garuk kepalanya—menyembunyikan raut wajahnya yang memerah.
”Ya.” Cinta tak berkedip sedikit pun dari layar komputernya.
”Oh, lagi ngapain?” Kini Arjuna mulai memberanikan diri menatap Cinta di sampingnya—walau sedikit-sedikt.
”Ngetik!”
”Buat apaan?”
”Tugas.”
”Oh…siapa pengajarnya?”
“Prof. Tatsuro.”
”Ohh…Kamu apa kabar nih?”
”Baik.”
”Masih marah ya, soal yang waktu itu?”
”Enggak.”
”Serius nih?, aku minta maaf deh.”
”Iya.”
Mati kutu deh! Pelit banget ngomongnya, Non…
Mengingat itu Arjuna jadi sering tertawa sendiri. Tapi begitulah Cinta—dia memang beda. Dan Arjuna tidak usah repot-repot mencari alasan mengapa dia mencintai Cinta. Lagian, Arjuna sekarang mulai mencari-cari informasi mengenai cintanya. Bahasa yang terlantun dari mulut Cinta kadang-kadang beraksen Inggris yang mempunyai struktur bahasa halus dan mudah dimengerti, nada bicaranya yang tegas, membedakan ia dengan perempuan-perempuan Jepang yang sering mendekati Arjuna ataupun para perempuan Indonesia.
Usut-usut punya usut. Si Cinta ini adalah perwakilan keputrian di remaja masjid di Universitas Tokyo. Arjuna mulai berpikir, jika dia ingin mendapatkan hati Cinta maka dia harus mengubah penampilannya menjadi seorang pemuda masjid; yang memakai celana gantung di atas mata kaki, dan bahasanya pun mulai diperbaikinya dan selalumemakai peci ke mana pun ia pergi. Dan akhirnya, ia pun merelakan celana kesayangannya dipotong sepuluh centi, serta rela-relain berburu peci yang biasa dipakai pemuda mansjid, kecil, bulat dan bahan dasarnya dari kain di pasar-pasar tradisional. Hal ini tentu saja berbeda dengan kebiasaan Arjuna yang sangat anti dengan pasar tradisional, apalagi jalanannya becek, penuh dengan orang yang berjualan dengan tidak rapi, dan tak jarang berdesak-desakkan hanya untuk mendapatkan barang-barang yang murah dan bagus. Namun, demi cinta dia lakukan semuanya.
”Ya ampun, Jun.. kamu salah makan apa? Kamu kesurupan hantu ya, Jun?” Itulah ekspresi pertama Tamaki—yang tidak percaya, sahabat Indonesia kerennya itu berubah.
Arjuna cuek saja, berapa orangpun menertawakan penampilannya yang baru. Dia tidak peduli. Yang pasti, dengan seperti ini, Cinta akan mulai menyukainya. Walaupun, berubah seperti ini—Arjuna banyak berkorban—banyak organisasi yang terbengkalai—karena dia terlalu aktif di masjid kampusnya.
Tiga bulan sudah dia memasuki dunia “lain” dari kehidupannya. Dia mulai tahu, kalau Cinta tidak menyukai pacaran.
”Wanita itu suka sama lelaki yang bertanggung jawab dengan amanahnya, serta taat beribadah…” ceramah Senior Abdul Damyoji—ketua pemuda masjid di kampusnya itu—mulai menyesakkan hati Arjuna saat mentoring pengurus berlangsung. Soal bertanggung jawab sih, dia selalu tepat waktu hadir di masjid, organisasi yang lain sudah banyak ditinggalkannya agar tidak mengganggu rutinitasnya di keorganisasian masjid. Namun, kalau taat beribadah—hanya di sini ini saja dia sering shalat, mengaji—tapi kalau di rumah jarang— itu juga kalau ada mood. Oke deh kalau cinta memang menginginkan calon suami yang shaleh dan rajin beribadah, aku lakukan, pikir Arjuna.
”Apa? Menikah?” Mata Tamaki melotot, oden kesayangannya hanya menjadi pajangan setelah ia mendengar ucapan dari Arjuna.
Arjuna mengangguk, senang.
”Sama siapa…?”
”Cinta.”
”Ya ampun! Sama cinta yang ndut itu?”
”Hei! Dia calon istriku, Tamaki!”
”Baru juga calon! Kamu kok yakin banget. Memangnya kalian sudah jadian?”
Arjuna menggeleng, tapi raut wajahnya belum berubah—masih tersenyum.
”Gila!”
”Emang!”
Keputusan Arjuna sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat. Walaupun dia jarang berbicara dengan cinta, dia yakin Cinta seringkali juga melirik-lirik pandang ke arahnya. Apalagi, saat ada mentoring semua pengurus. Pertemuan mata mereka seringkali terjadi. Layaknya seorang pejuang di dalam salah satu acara reality show di televisi, Arjuna berusaha mencari tahu kesukaan Cinta. Sampai ke akar-akarnya. Karena cinta bukan dijadikannya seorang pacar, namun istri. Cinta yang satu ini benar-benar berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah ia kenal.
Mulailah ia hunting-hunting foto Cinta di kesekretariatan masjid. Setelah dapat, Arjuna langsung menempel foto itu di gabus-gabus yang telah ditempel dengan hiasan-hiasan love, perjalanan cintanya, pengalaman unik saat ia memendam rindu kepada cintapun ikut nongkrong yang ditempel di gabus-gabus tersebut.
Arjuna pun memberi tahu rencana ini kepada Tamaki. Awalnya, Tamaki sempat jantungan saat mendengar rencana yang akan dijalankan. Namun, karena sudah terbiasa dengan berita-berita “aneh” dari Arjuna, dia akhirnya menurut saja, tanpa komentar—pikir Tamaki—dari pada dia ikutan gila—menentang kemauan Arjuna.
Setelah persiapan telah selesai, entah kenapa degup jantung Arjuna berdetak kencang, seperti ingin keluar saja dari lapisan kulit. Tangannya sedang memegang rangkaian kelopak mawar dengan sakura—karyanya sendiri, disaat ia memikirkan Cinta—mulutnya komat-kamit, seakan menghapal kata-kata yang sedari tadi telah dipersiapkannya. Belum lagi, keringat dingin yang merayapi seluruh badannya. Ini selalu menjadi kebiasaannya—jika akan berdekatan dengan Cinta. Kalau bukan, karena ia teramat ingin memiliki cinta. Mungkin semua ini tidak akan dilakukannya—pikirnya, pasrah. Dan kini tiba saatnya, saat ia berkata jujur pada cinta.
”Kata temen-temen, Anda mencari saya?” suaranya lembut namun tegas kembali terucap. Bagai sebuah petir yang menyambar hati Arjuna— tak karuan.
”Oo.. anu.. iya,” jawab Arjuna pelan.
”Ada apa?”
”Ini buat kamu…” Arjuna mengulurkan rangkaian mawar dan sakura yang tadi dipegangnya kepada Cinta.
”Ini untuk apa?” Cinta menerima, segan.
Arjuna menghela napas, dalam. Kemudian melihat sekeliling. Terlihat teman-temannya yang membawa gabus yang tadi telah mereka hias. Arjuna meniti satu per satu tulisan yang ada. Sampai pada gabus yang dipegang oleh Tamaki, sahabatnya itu memegang gabus yang ”spesial” bertuliskan ”May you married me?” Jantung Arjuna makin kencang berdetak, saat melihat wajah cengegesan Tamaki, berubah menjadi pucat. Apa karena dia gugup juga?
”Tolong lihat yang dibawa oleh teman-temanku ini. Ini semua untuk kamu.”
”Sudah, terus?” Cinta mengernyitkan dahinya.
Arjuna yang tadi gugup, tiba-tiba merasa gemas. Masih saja ia keluarkan suara pelitnya dan kata-katanya yang super pendek, singkat dan padat itu—memangnya ngirim telegram—benak Arjuna berguman. Ingin ia cubit pipinya yang manis itu, melihat wajahnya ia berbenak mengoyangkan isi hatinya.
”Aku suka kamu,” ucap Arjuna kemudian dengan lantang.
Cinta heran, namun tak lama dia tersenyum tipis.
”Jadi?”
Arjuna tambah gemas.
”Kamu mau jadi pacarku?”
”Maaf…”
Kini, jawaban Cinta—membuat Arjuna riang. Dia sudah tahu jawabannya—dia pasti menolak kalau dijadikan pacar, namun jika ia ulangi lagi pertanyaannya—ia yakin Cinta tak akan berkutik lagi.
”Eeh.. maksudku, kamu mau jadi istriku?” Kata-kata Arjuna membuat Riuh teriakan mahasiswa-mahasiswa Universitas Tokyo yang sedari tadi sedang mengamati mereka. Ada rasa cemburu dari Mahasiswi-mahasiswi itu, ada siulan memberi semangat, ada yang berteriak histeris tidak percaya melihat apa yang diungkapkan pujaan mereka, orang Indo tampan terpencut hanya dengan seorang Yumiko Shafa, yang sama sekali tak ada sempurnanya—pikir mereka.
Cinta terdiam, sepertinya dia kaget dengan ucapan dari Arjuna.
”Sukron atas perhatiannya…” sahutnya lembut.
Arjuna menunduk, menyiapkan hatinya. Saat Cinta mengiyakan permohonannya. Mungkin dia akan berteriak sekuat-kuatnya agar seluruh dunia tahu, dia diterima oleh cinta. Karena sudah rahasia umum—seorang wanita seperti cinta sering disebut dengan akhwat— jika dilamar—tidak akan berani menolak—apalagi calonnya rajin nongkrong di masjid, Nehi mohabaten deh buat ditolak. Dan itu akan menjadi suatu kenyataan pada saat ini. Akhirnya pengorbanan lahir dan bathin seorang Arjuna tidak akan sia-sia. Setelah ini dia akan ber-Hinami bersama gadis ini di bawah dedaunan sakura yang indah dan sejuk menatapnya. Bayangan Arjuna sedikit lagi akan berbunga-bunga.
Yumiko mengernyit perlahan, melihat ekspresi Arjuna yang berbinar-binar.
”Tapi saya tetap tidak bisa menerima lamaran Anda…”
Arjuna keget bukan main, dia menonggak dengan cepat. Tamaki saja tidak percaya—gadis seperti Yuniko itu menolak Arjuna yang sering dijadikan rebutan cewek-cewek di kampus. Bukannya menikah adalah satu-satunya cara untuk mendekati Cinta.
”Loh, kok bisa? Bukankah kamu memang gak suka pacaran? Dan kamu pengennya langsung menikah khan? Apa karena kamu masih kuliah, jadi kamu menolak menikah?”
Cinta—Yumiko menggeleng pelan, dibarengi dengan senyuman manisnya. Ini senyuman kesukaan dari Arjuna—cantik sekali.
”Bukan, saya menghargai semua usaha-usaha Anda. Selain saya belum begitu mengenal Anda…”
”Oh.. kalau itu, tenang saja—aku bisa bikin kamu cepat kenal sama aku. Aku orang baik-baik kok, orang Indonesia yang ramah…penyuka bunga, lain kali aku pasti akan tiap hari merangkaikan bunga untukmu.” Arjuna mengedipkan matanya, centil. Cinta manyun, aneh.
”Iya, tapi saya tidak berniat untuk menikah lagi, jadi maafkan saya…”
”Hah? Maksudnya?” Mulut Arjuna tergangga. Tamaki dan mahasiswa yang lain pun tercekat tidak percaya. Menikah lagi?
”Afwan, saya sudah ada yang punya, karena saya sudah menikah.”
”Apaa??!!” Serentak semua mahasiswa berucap.
”Sudah menikah? Sama si…apa?” tanya Arjuna, kelu—Ia pikir kenapa pertama kali Cinta berbicara dengan panjang dan tidak pelit kata-kata akan membahagiakan tapi nyatanya malah menyakitkan hati. Ingin rasanya ia menangis di situ. Tapi jelas saja ia tidak melakukannya karena seorang Arjuna tidak boleh menangis dan tidak boleh kalah. Duh, tapi tetap saja, aku terlihat bodoh sekali—pikir Arjuna, merana.
Cinta mengangguk, ”Senior Abdul Damyoji adalah suami saya.”
Apaaa!!!
Wajah Arjuna merah padam. Senior Damyoji? Oh God! Aku benar-benar kalah total—pikirnya serentak. Kini pengorbanannya seakan sia-sia. Menjadi saleh, rajin beribadah, selalu memakai peci, berkorban waktu menyusuri pasar-pasar tradisional yang becek, bau, serta merelakan berdesak-desakkan hanya untuk mencari peci-peci yang biasa dipakai oleh pemuda-pemuda masjid. Belum lagi usaha Arjuna yang merelakan memotong celana kesayangannya di atas mata kaki— hanya karena ingin dekat dengan Yumiko.
Mata Arjuna perih. Kepalanya mulai terasa berat—kali ini malunya menusuk hulu hatinya. Hinami—berjalan menyusuri taman sakura di musim semi ini kian memudar. Air bening mulai menggenangi kelopak matanya.

Kupu-kupu yang Hinggap di Nisan Tanpa Nama

Kupu-kupu itu selalu menghinggap di atas nisan tanpa nama itu. Nisan dari kayu lapuk yang tepat di bagian timur makam Bapak. Kupu-kupu yang pernah aku lihat dulu. Agaknya memang tiap aku ziarah ke makam Bapak ia sengaja muncul menemuiku. Mengisyaratkan agar aku mengingat masa lalu.
Raut muka yang berseliweran di depan rumahku bukan tampak biasa. Tak wajar. Tegang. Sekitar delapan sampai lima belasan orang berjaga di jalan. Masing-masing memegang gagang kayu sebesar lengan orang dewasa. Mereka bersiap jika ada serangan tak terduga. Bapak ada disitu. Beberapa jam yang lalu, tetanggaku dilempar batu sebesar batok kelapa tepat di dadanya. Akibatnya ia dilarikan ke rumah sakit, entah bagaimana keadaannya. Waktu itu usiaku amat belia. Aku ingat betul aku masih duduk di tahun terakhir Madrasah Ibtidaiyah, atau kalau kamu tak paham istilah itu kamu bisa menyebutnya Sekolah Dasar.
Begini. Kumulai kisahku dengan sebuah Langgar Atau mungkin orang di tempatmu menyebutnya mushola, surau, atau pondok. Di seberang jalan. Sekitar lima menit berjalan kaki dari rumahku. Tempat itu yang kini tak kujumpai lagi jika kupulang kampung. Tempatku mengaji dulu. Pula tempat pertama kali Bapak mengantarku pada ustadz Zuhdi. Kuingat, Persis di depan rumah ustadz Zuhdi, guru ngaji pertamaku itu langgar yang paling awal berdiri sebelum bertengger langgar-langgar lainnya. Hanya dipisahkan jalan yang membentang panjang di antara langgar dan rumahnya. Tentu tak sesepi tempat-tempat ngaji yang ada sekarang. Anak-anak kampung sebelah banyak juga yang berduyun ngaji disitu.
Tapi sekarang tak mungkin bisa kau saksikan lagi langgar itu berdiri di kampungku. Berderet-deret bangunan baru begitu membuat pangling. Puing pondasinya pun telah berdiri di atasnya sebuah ruko milik turunan orang Cina. Tiap aku berdiri di depan toko milik orang Cina itu samar-samar ingatanku membayang ustadz Zuhdi. Ada dimana beliau sekarang? Jika masih hidup, mungkin kini ia telah bercucu pinak. Namun bila telah tiada dari dunia, maka dimana pusaranya kini?
Rumahnya telah tak lagi terhuni. Sepi. Genting-gentingnya masih utuh di beberapa bagian. Jendelanya tersisa kaca-kaca tajam terkena lemparan batu. Di bagian yang lain retak membentuk alur yang tak beraturan. Di berbagai sudut hampa kamar rumah itu yang bisa ditemui hanya gelap pengap yang memenuhinya. Di bagian muka, dulu ada taman yang lumayan luas dengan bunga-bunga yang berwarna-warni, milik istri ustadz Zuhdi. Sekarang hanya rerumputan galak yang tampak tak asri. Bangunan itu terlihat menyeramkan.
Di seberang jalan di depan rumah itu dulunya langgar itu berdiri. Jelang maghrib, kami akan sudah disitu. Berlomba meletakkan mushaf Qur’an di dampar agar mendapat giliran setoran ngaji paling awal. Menunggu maghrib tiba, halaman rumah ustadz Zuhdi akan terdengar reriangan. Kaki-kaki yang berlarian mengepulkan debu. Ada teriakan dan canda. Mengejari kupu-kupu di antara pohon jambu air dan pohon sawo kecik. Kupu-kupu yang cantik warnanya. Putih, bergurat biru, juga sedikit warna kuning. Jarang kumenemukan selain di halaman rumah itu.
Kupu-kupu  itu menemani sore kami. Seperti pernik-pernik yang berwarna-warni. Kepakan sayap kecilnya bergerak dalam suara hampa. Sekejap ia akan terbang entah kemana. Kemudian kembali lagi. Membawa kupu-kupu yang lain, mungkin anak-anaknya atau keluarganya. Beberapa ada yang berdiam dalam kepompong, menggantung di dahan bunga kana.
Lalu ada yang berlarian menuju tepi jalan.
Teriakan-teriakan konvoi pemuda itu seperti tak menghiraukan terik yang begitu membuat kulit kering keriput. Ribuan orang tumpah ruah di jalanan. Ada begitu banyak motor yang meraung sehingga suara bisingnya begitu lama singgah di gendang telinga. Juga ibu-ibu dan orang-orang yang telah sepuh memenuhi mobil bak terbuka. Berpuluh ribu peluh tak mengeluh kepanasan. Suara-suara gas knalpot diiiringi bunyi klakson. Nyanyian mereka khas sekali. Konvoi itu gaduh. Seperti suara panggilan yang membius warga berkumpul di sisi-sisi jalan. Membentuk pagar manusia.
Menyaksikan ribuan orang berlalu melewati jalan adalah pemandangan yang menarik buatku dan teman-temanku saat itu. Wajar. Sesusiaku menyukai hingar-bingar yang tak biasa kusaksikan tiap hari.  Apalagi pakaian yang mereka kenakan di jalanan. Begitu menarik, ijo royo-royo. Muka-muka pemuda itu coreng-cemoreng hijau juga. Hijaunya hijau muda. Teman-temanku menyebut itu pawai Partai Ijo Muda. Bapak juga ikut partai itu. Kutahu sebab di muka halaman rumahku di sisi jalan tertancap tiang berlambang Partai Ijo Muda.
“Itu partai bapakku!” tunjuk Sapto bangga.
“Bapakku juga!” kubilang.
“Aku juga!” lalu yang lain menyahut.
“Sssst..nanti ustadz Zuhdi dengar,” bilang yang lainnya lagi.
“Iya, Sssstt…” aku melirik Sapto.
Tetanggaku Partai Ijo Muda. Pamanku Partai Ijo Muda. Pak Lik, Bu Lik, Pak dhe Partai Ijo Muda. Hampir seluruh keluargaku pengikut partai ijo muda. Seluruh desa partai ijo muda. Di kampungku cuma Ustadz Zuhdi yang di depan halamannya berkibar bendera partai yang berbeda dari yang dianut orang-orang kampung. Partai Ijo tua, bukan ijo muda. Partai ijo muda bergambar seperti kotak kapur sedangkan partai ijo tua bergambar bulatan bumi.
Tiap saat yang dibicarakan pasti bahasan yang sama. Tidak di pasar, di warung, di emper-emper rumah, bahkan di pengajian rutinan pun. Pasti pembicaraannya tentang pawai, kampanye, konvoi, partai, itu-itu saja. Pedagang berunding dengan pembeli, serius masalah partai. Bapak dan anak musyawarah keluarga, ngurusi partai. Kyai berdalil di depan khalayak juga singgung-menyinggung partai.
Tidak habis pikirnya, partai dipuja bagai juru selamat. Kalau tidak masuk partai itu tidak masuk surga katanya. Entah dalil dari mana itu. Pernah, dulu, kuikut bapak berkonvoi di jalanan. Membawa bendera dan mengenakan kaos hijau muda bergambar lambang seperti kotak kapur.
Bangga rasanya sebab tidak semua anak seusiaku mendapat izin orang tuanya mengikuti pawai sepertiku. Para orang tua mereka itu bukannya tak mau menuruti kehendak anaknya. Bukan pula menolak hingar-bingar dan sorak-sorai keramaian. Tetapi para orang tua khawatir keramaian itu kadang membawa petaka. Maksudku, kerusuhan sering terjadi jika antar partai berpapasan. Mungkin karena adu gengsi. Sok menunjukkan siapa yang terkuat. Sok saling tunjuk calon pemimpinnyalah yang paling kuat. Dan ujung-ujungnya tawuran. Masuk rumah sakit. Masuk penjara. Ironisnya lagi nyawa melayang demi membela seorang pemimpin yang mereka sendiri tak tahu jika terpilih kelak apa masih ingat pengorbanan mereka.
Saat itu aku tak ahu dari mana mulanya, jika Partai Ijo muda bertemu Partai Ijo tua maka dipastikan yang terjadi perseteruan. Aku sendiri tak mengerti, kedua partai itu basisnya islam, sama-sama berasal dari organisasi islam terbesar di Indonesia –seperti yang dulu pernah kudengar dari orang-orang-. Tapi mengapa begitu mudahnya mereka saling memusuhi. Saling memaki. Bahkan berusaha saling membunuh. Bukankah sesama muslim itu saudara? Bukankah pula sesama muslim itu mesti saling tolong-menolong?
Agaknya itu tak berlaku di tempatku.
Fanatisme yang berlebihan telah meracuni pemikiran masyarakatku. Otak mereka telah dicuci. Jika tidak memilih yang mereka pilih maka jangan harap dianggap manusia di masyarakatku.  Mereka saling cegat-mencegat. Jegal-menjegal adalah hal yang wajar. Kata-kata makian jadi umbaran yang halal bagi juru kampanye yang mengaku ulama itu. Waktu itu pernah kudengar dari kampanye -yang mereka sebut itu pengajian sebab yang berkampanye itu para kyai- , ulama-ulama juru kampanye itu memaki ulama lain yang tak sealiran dengannya, yang lebih ironis lagi yang diumpatnya waktu kampanye itu malah kelak jadi kepala Negara mereka.
Suatu pagi, seperti hari sebelumnya. Bola raksasa yang mengawang di angkasa mengawali putarannya. Tak pernah terpikirkan akan berapa lama lagi bola raksasa itu akan kehabisan energinya. Bahkan belum terpikirkan jika suatu pagi matahari akan lenyap dan berhenti bersinar sedangkan akal manusia belum mampu menjangkau untuk mencari energi yang bisa menggantikan matahari. Matahari yang sinarnya memancar ke banyak bagian yang berbeda. Matahari yang digunakan untuk patokan waktu di seluruh dunia. Mereka gunakan pula untuk menamai musim yang terjadi. Matahari yang dibutuhkan ibu jika akan menjemur pakaianku dan pakaian bapak. Matahari yang dicari para petani untuk mengeringkan gabah-gabahnya. Dan pula matahari yang digunakan nelayan untuk mengeringkan ikan asinnya.
Jalanan di hari itu tak semeriah hari lalu. Kabarnya hari itu akan ada kampanye Partai Ijo Tua. Tratak telah berdiri. Kursi-kursi plastik di tata berjajar rapi. Podium telah berdiri gagah. Banser dan pasukan yang terdiri dari orang-orang tegap berjaga di situ. Suasana tampak akan ada yang hajatan di tempat itu.
“Hancurkan kemusyrikan….Hancurkan syaiton..!” Teriakan itu memecah lengang. Disusul konvoi lelaki bercadar putih. Hanya mata yang saling memandang. Mata tanpa nama itu berkerumun membawa senjata yang siap untuk menyabet siapa saja yang akan menghalangi niatnya.
“Kalian terkutuk! Kalian bukan islam!” di bagian lain dari konvoi itu meneriaki orang-orang yang berada di pengajian itu.
“Kalian lebih terkutuk lagi!” jawab seorang dari pengajian itu.
Seorang dari kelompok pengajian itu menunjukkan nyalinya. Sendirian ia melangkah maju. Setelah menengadahkan tangan, ia membuat pagar ghaib. Kekuatan yang tak terlihat itu mampu mementalkan tiap barisan konvoi yang mencoba mendekati laki-laki tersebut. Salah satu pemimpin konvoi bercadar itu pun seperti tersulut amarahnya. Ia turun, entah melakukan ritual seolah keduanya saling berperang ghaib. Sesekali salah satu dari keduanya ada yang terpental. Tak beberapa lama ia mengomandoi naka buahnya.
“Maju! Jangan takut, kita di jalan yang benar!”
“Allahu Akbar!”
Dari belakang kerumunan terlempar bom molotof yang menjatuhi sebuah motor. Api pun langsung menyala-nyala memakan motor itu. Melahap bagian demi bagian yang terlapisi minyak tanah. Ratusan orang bergerak merangsek menenteng apa saja yang bisa digunakan untuk melukai. Bahkan bila perlu untuk membunuh.
Bagai drama perang kolosal masa lalu, tak ada mulut yang berbicara. Sabetan pedang dan celuritlah yang mewakili cakap mereka. Sahut-sahutan asma Allah seakan tak ada maknanya. Tak ada yang mampu berpikir jernih di situasi itu. Satu sama lain saling mengklaim yang benar. Saling mengaku merekalah sebenar-benarnya muslim. Partai telah membutakan mata mereka. Mereka pun tak peduli lagi jika yang mereka hadapi adalah saudara kandungnya. Mereka putus begitu saja ukhuwah yang terjalin ribuan tahun lalu.
Asap pekat membumbung ke angkasa. Belasan kendaraan menjadi korban keberingasan. Dibakar dan dimasukkan ke dalam sumur. Puluhan orang terluka. Langgar dan rumah pun tak luput dari amarah. Mereka lempari dengan batu. Mereka robohkan atap-atapnya. Mereka jarahi apa yang bisa mereka anggap sebagai barang berharga.
Malamnya, aku tak bisa lagi mengaji lagi ke Langgar. Langgar kami telah rata. Bapak melarangku pergi kemana- mana. Ibu-ibu dan anak-anak tak diperkenankan di luar rumah. Para pemuda dan orang tualah yang berjaga. Sayup-sayup dari dalam rumah kudengar mereka bercengkerama. Kudengar dengan jelas mereka menyebut nama Ustad Zuhdi. Guru ngajiku itu menghilang sejak peristiwa yang menghanguskan langgarnya. Sebagian yakin jika Ustad Zuhdi telah tewas terbantai. Lainnya berargumen, ustad Zuhdi menghilang bersama istrinya. Satu sama lain saling ngotot.
Setelah kejadian itu memang tak lagi ada yang tahu dimana Ustad Zuhdi. Banyak korban berjatuhan dari peristiwa itu. Dari yang terluka hingga hilang nyawanya. Kampung kami sedang berkabung. Berkabung karena matinya akal sehat, juga karena matinya ajaran ukhuwah yang selalu diajarkan Rasulullah. Kami menyesal pikiran-pikiran jahiliyyah kembali hadir di zaman se modern ini.
Sekitar lima jenazah menjadi korban peristiwa itu. Satu dari partai Ijo Muda, tiga dari partai Ijo Tua. Satu lagi korban tak dikenal identitasnya. Jenazah itu telah tak berupa manusia lagi. Sekujur tubuhnya hangus terbakar hingga tak terkenali. Jenazah itu lah yang mereka yakini jenazah Ustad Zuhdi. Guru ngajiku. Mayat-mayat itu dimakamkan dengan nisan tanpa nama. Tak ada yang tahu benar apakah itu Ustad Zuhdi. Sampai saat ini pun.
Tiap aku pulang kampung dan ziarah ke makam Bapak, kupu-kupu itu selalu hadir di penglihatanku. Ada ikatan batin yang sulit diungkap antara aku dan kupu-kupu itu. Kupu-kupu itu seperti merekam sebuah ingatan. Dalam senja yang ramah angin terkadang luruh seakan meniupkan kenangan. Sebuah andai yang ingin kembali terjadi. Tak ada hal lain yang kukenang jika tengah berdiri menatap kepakan lentik dari warna yang begitu membuat bayangan masa lalu muncul kembali. Tak tahu dari mana munculnya. Pernah kucoba menelusuri asalnya. Tapi niatanku begitu saja pupus saat bertemu kenyataan kesehariaanku.

Hilangnya Akibat Khilafku

“Allahu Akbar… Allahu Akbar!”
Alunan azan membahana dari masjid seantero kota Surabaya. Udara pagi terasa menelusuk tulang hingga mendorong tanganku menarik selimut dan menyempurnakan posisiku, menutupi seluruh bagian tubuhku.
“Allahu Akbar… Allhu Akbar!”
Seruan itu kembali mengoyak telingaku. Akhh… mataku terasa berat sekali. Kurasakan lelah yang mendera di sekujur tubuh. Kututup kedua telingaku dengan bantal. Aku tak hendak mendengarkan seruan itu.
“Asyhadu anlaa ilaaha illalloh…!” Aku tak sanggup lagi. Mataku telah tergembok rapat. Semalaman aku berkencan dengan seabrek tugas kantor yang harus kuselesaikan hari kemarin. Keadaan seperti ini sering terjadi saat aku sedang kelelahan tak bisa mengahantarkan tubuhku ke kedinginan air yang menyergapku. Aku kalah pada keadaan. Sebenarnya tidak juga begitu. Aku terserang penyakit malas. Karena kesibukanku yang makin menggila. Aku rasa, aku butuh istirahat yang cukup.
***
Kriiingg… kring…! suara jam weaker mengejutkanku hingga aku terbangun dari tidur yang tak begitu nyaman. Pukul tujuh. Artinya, aku harus segera bersiap-siap pergi ke kantor. Aku harus lekas menemui relasi dan klien-klienku, tak boleh terlambat. Tak lama kemudian, hand phoneku berdering.
“Hallo… dengan Rio, ada apa menghubungi saya pagi-pagi begini?”
“…………”
“ Baik saya segera ke kantor!”
Dalam sekejap BMW-ku melaju melewati jalanan kota yang mulai dilanda macet dan berbaur dengan aroma CO2. Udara yang seharusnya masih segar dan sehat sepagi ini, telah dilalap kentalnya kadar karbondioksida yang membanjiri Surabaya. Namun aku sudah bersahabat dengan segala keadaan ini, karena mencari uang adalah hidupku. Kesibukan duniawi yang membawaku kepada kenyamanan lahir, telah membuatku puas.
Dulu, waktu Ibu masih hidup, aku selalu dibanjiri oleh nasihatnya agar aku tak meninggalkan shalat. Tapi nikmatnya dunia kini membuatku berpikir, untuk apa aku shalat? Toh rezeki itu aku yang kejar sendiri. Ia tak akan datang ketika aku hanya berdiam diri dan shalat di rumah. Kalau aku begitu, jadilah aku orang yang miskin, yang hanya mengharap belas kasihan orang lain untuk dapat makan barang sehari. Tak mungkin uang akan turun dari langit seperti hujan. Mustahil. Dan jadi orang miskin itu hanya merusak martabat manusia. Membuat aib saja.
“Assalamualaikum! Selamat pagi, Bos!” sapa seorang karyawan.
“Pagi..” aku menjawab tanpa menoleh. Aku menerobos ruang dan waktu, berjalan angkuh layaknya seorang bos. Itulah hari-hariku. Ya, seperti yang aku ceritakan sebelumnya. Aku puas dengan semua kecukupan yang aku miliki sekarang. Limpahan harta. Kesenangan dunia membuatku perlahan melupakan bahkan tak merasa ada orang yang telah melahirkanku dulu. Bagiku, itu memang sudah takdir. Dan sekarang aku bisa mengubah takdir dengan tanganku. Haahh… aku senang dengan hidupku.
***
Ruang kantorku sengaja dirancang kedap suara, karena aku menginginkan kenyamanan ketika berada di dalamnya. Aku tak mau terganggu oleh deru mesin kendaraan yang berlalu hilir mudik di sekitar kantorku. Memang, letak kantorku sangat strategis. Dan aku tak sadar, bangunan seperti itu juga telah melalaikanku dari mendengarkan suara azan. Tiba-tiba ada perasaan tak nyaman hinggap di bagian tubuhku yang paling dalam. Menyeringai, menelusuk relung hatiku. Aku merasakan ketaknyamanan tak bertepi. “Jangan lupa sholat Nak!…” sekelebat bayangan wanita 50 tahun-an lewat di ruang otakku. Namun segera kuenyahkan perasaan dan bayangan itu.
“Tok..tok..tok!”
Partikel-partikel pada daun pintuku bergerak menghasilkan gelombang bunyi yang berfrekuensi tinggi dan mengejutkanku.
“Masuk!” jawabku sekenanya.
“Pak Rio, saya minta izin 15 menit keluar dulu…!”
“Sari kemarin kok izan, izin… Bapak tidak lihat apa kantor kita sedang banyak orderan?! Baru setahun jadi karyawan di sini sudah berani sering-sering izin!”
“Iya, saya tau, Pak… insya Allah nanti setelah saya kembali, saya selesaikan tugas saya.”
“Baiklah! Sepuluh menit!” Aku marah.
Entah apa yang membuatku marah. Mungkin rasa berkuasalah yang selama ini telah mengalahkanku. Selama ini memang aku selalu sensitif jika sedang berhadapan dengan karyawan-karyawanku. Aku selalu memposisikan diriku sebagai bos. Aku merasa bahwa aku berkuasa atas hidup mereka. Aku merasa hidup mereka ada di tanganku. Kapan pun aku bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan. Dan selama ini, jika ada karyawan yang ku-PHK, banyak dari mereka yang memohon-mohon padaku untuk dikembalikan pekerjaannya.
Tapi kurasakan keanehan kini, aku merasa tak enak hati setelah memarahi Pak Halim, seorang karyawan yang setiap pukul 12.00 dan 15.00 meminta izin untuk keluar sejenak. Yang mukanya selalu teduh menghadapi keegoisanku. Selalu sabar menghadapi luapan emosiku yang kerap meledak-ledak di hadapannya.
Setahuku dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku juga tahu dia mempunyai potensi yang besar untuk memajukan perusahaanku. Karena itulah, aku tetap mempertahankannya di perusahaanku. Pun ia tak pernah melalaikan tugasnya. Ia sangat bertanggung jawab. Lantas apa yang membuat aku marah-marah padanya hari ini dan tak jarang pada hari-hari lain?
“Lama sekali orang ini!” Aku membatin sambil menunggu Pak Halim yang sudah hampir setengah jam tak muncul- muncul juga di hadapanku.
Aku tahu, Pak Halim izin keluar hanya untuk menunaikan shalat; yang seharusnya aku pun melakukannya. Namun karena sering melalaikannya, aku jadi terbiasa tidak melaksanakan shalat. Aku tak merasa berdosa. Aku membiasakan diriku tuk tidak mendengarkan hatiku.
“Maaf, Pak! Tadi saya harus…”
“Ah… Alasan saja Anda ini! Mulai besok, Anda tidak boleh duduk di kursi itu lagi!”
Pak Halim paham apa maksud ucapanku dan ia lalu berpamitan setelah mengucapkan terima kasih.
***
Sejak kejadian itu, aku kini sering merenung. Aku sendiri kini yang harus memikirkan nasib perusahaanku. Dalam kondisi diriku yang seperti ini, bayangan wanita tua yang selalu mengingatkanku akan shalat pun selalu muncul setiap kali aku membutuhkan konsentrasi untuk memikirkan nasib perusahaan. Keputusan yang kuambil tak pernah tepat kini. Alhasil, perusahaanku pun gulung tikar. Utang di mana-mana.
“Aghhhhrrrhhh…!” Aku marah pada diriku sendiri. Aku terlalu egois. Kalau saja Pak Halim masih mendampingiku, aku tak akan sesusah ini. Ah… aku menyesal.
Kustarter BMW-ku, mesin berbunyi halus. Tanpa konsentrasi yang penuh, aku melaju.. Kali ini tak tahu aku akan pergi ke mana. Aku tak tahu, ingin aku kembali ke kampung halaman, meminta maaf pada ibuku, menziarahi kuburnya, aku malu. Pun begitu juga kepada saudara-saudaraku. Pak Halim, yang terkadang menjadi tempat curhatku, kini tak ada lagi di sampingku.
“Nak, bagaimanapun, jangan tinggalkan shalat! Itu adalah ibadah yang pertama kali dihisab.” Tiba-tiba bayangan Ibu muncul lagi di kaca depan mobilku. Menghalangi pandanganku ke depan.
“Nak! Kembalilah kejalan Tuhan-Mu!” Kali ini keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku menggigil. Perasaanku tak karuan.
“Nak! Ingatlah… semua harta benda hanya titipannya… kembalilah!”
“Tidaakk…!” Klakson dari mobil belakangku membuat konsentrasiku makin membuyar. Sorotan cahaya lampu dari mobil yang berlawanan arah denganku menyilaukan pandangan ini, saat bayangan Ibu hilang, yang kulihat hanya cahaya terang. Terang sekali, hingga aku tak nyaris buta. Klakson dari belakang terus beriringan.
“Ciiitttt! Brakkkk!!”
“Aduhh…” kurasakan nyeri yang tak terperi di bagian kepalaku. Cairan hangat mengalir dari kedua telingaku. Aku tak dapat menahan rasa nyeri yang amat sangat ini. “Bu,… maafkan aku…!”
“Ini peringatan buatmu, Nak! Kembalilah!” itu adalah kalimat terakhir ibu yang masih dapat kudengar dan kuingat. Ingatanku hilang seiring hilangnya bayangannya.
***
“Di mana aku? Mana Ibu ..?” Samar-samar kulihat wajah yang tak asing itu duduk di sampingku.
“Pak Halim? Kau kah yang membawaku ke rumah sakit ini?!”sembari bertanya-tanya pada diriku sendiri, mulutku terus berkomat-kamit.
Pak Halim hanya memandangiku haru. Air matanya mengalir. Sesekali ia seperti mengucapkan sesuatu kepadaku. Tapi aku tak mendengar apa-apa. “Astaghfirullohal’azhiim…!!!” ku berteriak mengharapkan ampunan dari Allah. Namun lagi-lagi, aku tak mendengar teriakanku sendiri. Tiba-tiba telingaku sakit. Dan aku baru sadar, kecelakaan malam itu membuatku tak dapat mendengar dan mungkin juga tak dapat berbicara. Aku tuli.
Tak ada yang lain yang bisa kulakukan. Hanya jeritan dalam hati yang mampu aku teriakkan. Tubuhku menggigil, kurasakan ngilu di ulu hatiku, seperti ditusuk sembilu. Dalam dan semakin dalam. Aku ingin shalat. Jam di dinding kamar putih itu menunjukkan pukul dua belas siang, waktu yang aku gunakan untuk memarahi Pak Halim yang izin keluar untuk melaksanakan shalat. Waktu ketika aku sering mengunci rapat-rapat telingaku dari suara azan yang mengalun syahdu. Dan kini suara itu benar-benar tak dapat lagi kudengar. Selama-lamanya.

Kaum Perempuan Hendaknya Belajar dari Seorang Mutiah (Kisah Calon Penghuni Surga)



Di pagi yang cerah, di saat sinar matahari mulai merekah menyinari kota Madinah, terekam sebuah episode bersejarah. Tentang Fatimah, yang bertanya kepada Rasulullah SAW, " Ya Rasulullah, siapakah gerangan selain Ummul Mu'minin, wanita pertama yang masuk Surga ?" Rasulullah menjawab, " Wahai Fatimah, jika engkau ingin mengetahui siapa wanita yang pertama masuk surga nanti selain Ummul Mu'minin, Mutiah-lah orangnya."

"Siapakah Mutiah itu, ya Rasulullah ?" tanya Fatimah. rasanya nama itu  asing bagiku. Karena aku bukan hanya ingin tahu, tapi juga ingin bertemu dengannya. Dimanakah ia berada ?"

Fatimah bersusah payah keliling kota Madinah mencari rumah Mutiah, bayangkan mencari alamat yang tidak tepat, disamping tidak terkenal orangnya. Hampir seharian Fatimah baru menemukan rumah Mutiah, setelah
masuk kampung keluar kampung, bahkan menaiki gunung. Ia berdua dengan putranya "Hasan" yang sengaja dibawanya untuk teman di perjalanan agar tidak sendirian.
Berhari – hari Fatimah berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW itu tinggal, Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya Fatimah mengetahui keberadaan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.

Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib maka Fatimah dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari…. Sesampainya di rumah Mutiah maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah…. dengan mengucapkan salam…
Assalaamu’alaikum ya ahlil bait…..
Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita…. Wa ‘alaikassalaam War. Wab….. Man anti …. Siapakah diluar ?… lanjutnya bertanya..
Fatimah menjawab… Saya Fatimah putri Muhammad SAW…..
Alhamdulillah…. hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta…
Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya….. dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki – lakinya yang masih kecil ( dalam riwayat masih berumur 5 tahun )… maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali…. maka terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu….

Ada apa gerangan wahai Mutiah….kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu…. apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahmi kepadamu ?…….
Mutiah dari balik pintu dalam rumahnya menjawab….. Wahai putri Nabi… bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku…. akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki – lakimu Hasan yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan lak – laki kerumahnya ketika suaminya tidak ada dirumah dan tanpa ijin suaminya..
Walaupun Hasan anakmu masih kecil tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah…. kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku….
Tersentaklah Fatimah Az Zahra mendengarkan kata – kata wanita mulia ini bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW….akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak…dan merencanakan akan kembali besok hari….
Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya…yang akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein… dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Hesein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan….
Namun ketika berada didepan rumah Mutiah maka kejadian pada hari pertama terulang kembali…. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya…..
Semakin galau hati Fatimah memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah dan begitu tunduk dan tawaddu’ kepada suaminya…
Pada hari yang ketiga kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang kerumah Mutiah pada sore hari… namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangakan dia karena kagum…. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik tang dipunyai dengan bau yang harum sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona….
Dalam kondisi seperti itu Mutiah mengatakan kepada Fatimah bahwa suaminya sebentar lagi akan pulang kerja dan dia sedang bersiap – siap menyambutnya…. Subhanallah… kita merindukan istri yang demikian yaitu ketika suami pulang kerja dia berusaha menyambutnya dengan kondisi sudah mandi… sudah berdandan…sudah memakai pakaian yang bagus…. dan siap menyambut kedatangan suami di halaman rumah dengan senyuman terindah penuh kasih dan sayang….. Ya Allah… jadikanlah istri – istri kami seperti Mutiah….
Akhirnya Fatimah pulang kembali dengan kekaguman yang tak terperi kepada Mutiah…. dan pada hari yang ke empat…. Fatimah Az Zahra datang kembali kerumah Mutiah lebih sore dan berharap bahwa suaminya sudah berada dirumah atau sudah pulang dari kerja….dan Alhamdulillah memang pada saat Fatimah datang suami Mutiah baru saja sampai dirumah pulang dari kerja…
Fatimah dan kedua anaknya Hasan dan Husein dipersilahkan masuk oleh Mutiah dan suaminya kerumahnya….. Fatimah melihat sebuah pemandangan yang jauh lebih mengesankan dibandingan dengan yang didapinya sejak hari pertama….. Mutiah sudah menyiapkan baju ganti yang bersih untuk suaminya…. sambil menuntun suaminya ke kamar mandi…. Mutiah terlihat mulai melepaskan baju suaminya dan mereka berdua hilang masuk ke bilik kamar mandi dan yang dilakukan oleh Mutiah adalah memandikan suaminya…. Subhanallah….stumma Subhanallah…..
Selesai memandikan saminya…. Fatimah menyaksikan Mutiah menuntun suaminya menuju ke tempat makan….. dan suaminya sudah disiapkan makanan dan minuman yang dimasaknya seharian…. Sebelum memakan makanan yang sudah disiapkan Mutiah masuk kedalam rumah dan keluar dengan membawa cambuk sepanjang 2 meter dan diberikan kepada suaminya dengan mengatakan….
Wahai suamiku…. seharian aku telah membuat makanan dan minuman yang ada didepanmu…. sekiranya engkau tidak menyukai… dan tidak berkenan atas masakan yang aku buat…. maka cambuklah diriku…..

(MasyaAllah…)

Tanpa bertanya apa – apa Fatimah sudah memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya Rasulullah SAW ketika bertanya siapa wanita yang pertama masuk syurga setalah para istri Nabi…. Mutiah….
Fatimah pulang menangis haru dan bahagia karena sudah mendapatkan jawaban bagaimana istri yang SHOLIHAH…. seperti yang ada pada diri MUTIAH….. yang mendapatkan kehormatan sebagai wanita yang paling dahulu memasuki syurga Allah SWT.


"..... Seorang tidak dianggap menyempurnakan kewajibannya kepada Allah, sehingga ia menyempurnakan seluruh kewajibannya kepada suaminya". (HR. Thabarani).


Rabu, 29 Februari 2012

koleksi perangko